Jumat, 02 Januari 2015

Aku

Oleh Annisa Oktaviani Putri

Dia bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti alur dalam melodi
Memainkan simponi indah penyejuk hati

            Aku gadis kecil dalam balutan setan, melangkah dalam kegelapan Sang Pencipta. Indah rerumputan memesona menjadi saksi bisu isi jiwa. Menatap sekelilingku, berbagai macam barang haram menjadi temanku menjalani masa remaja. Kau pasti heran, Kawan, mengapa aku disini menatap langit biru dengan tatapan kosong yang menyedihkan? Heh, terlalu muluk bila aku berharap ada orang yang menanyaiku seperti itu. Kau tahu, beberapa jam lalu, aku masih menjadi seorang siswi. Detik ini tidak, aku sudah keluar dari sana. Bukan mauku, hanya saja mereka-semua orang di sekolahku, tak bisa mengerti tetang apa yang kurasakan. Mereka hanya tahu bahwa aku bagaikan kutu busuk yang perlu mereka singkirkan. Ya, ya, ya, aku memang kutu busuk yang perlu disingkirkan, mengingat aku hanya akan mengotori tempat mereka yang katanya suci.
            Kupejamkan mataku, merasakan sejuknya angin yang menerpa wajahku. Bagaikan senandung penyejuk jiwa, angin bisu adalah temanku. Angin tak pernah membeciku, mereka selalu menerima kehadiranku disini. Ingatanku kembali ke dua tahun lalu.
***
Gadis kecil itu tengah bermain dengan orangtuanya. Mereka bahagia, sangat bahagia. Senyum manis tak pernah lepas dari wajah sang gadis. Tawa canda bersama orangtua menjadi penyejuk hati. Sang ayah sangat memanjakan gadis kecilnya, berbagai macam mainan menghiasi setiap sudut rumah nan megah. Layaknya seorang putri yang tinggal di sebuah istana.
Sampai suatu ketika semua itu terjadi, sebuah kejadian besar yang memutarbalikkan keadaan. Orangtuaku mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa mereka. Aku tahu kecelakaan itu adalah sebuah rekayasa seperti dalam drama, hanya saja orangtuaku benar-benar tak bernyawa dibuatnya. Aku tahu mereka merekayasa ini semua, sebagai balasan kebaikan ayahku yang telah menolong mereka -orang tidak tahu diri. Mereka mengiginkan jabatan ayahku sebagai seorang direktur utama di perusahaan yang telah dibangun ayah dengan susah payah. Padahal seharusnya, mereka bersyukur dengan apa yang telah mereka dapat. Lalu, mereka mengambil takhta ayah dengan cara membunuhnya.
            Bukan salah ayahku menjadi seorang yang kaya raya, bukan salah ayahku menjadi direktur utama. Kurasa ayah pantas mendapatka itu semua. Tekad yang kuat serta kegigihan ayah patut dihargai dengan kesuksesan yang didapatkannya. Kini mereka mendapatkan takhta ayah, hanya saja kuyakin takkan lama semua akan berbalik menghukum mereka.
***
            Kubuka mataku menatap senja yang mulai hinggap kala surya beranjak menuju peraduannya. Saatnya kembali, menuju tempat peristirahatan seperti neraka.
Aku masih di sini, tinggal di rumah megah yang tak lagi berwarna. Sejenak aku berusaha mengingat semua kebahagiaan yang dulu tercipta, hanya saja semua itu sirna kala wanita anggun dengan bibir merah merona menatapku tajam ketika aku mulai memasuki rumah.
“Darimana saja kau? Dasar gadis jalang sudah malam begini baru pulang?”
Aku hanya menatapnya sinis, tak mau menanggapi kata-kata kasar yang dilontarkannya. Dengan jengkel aku melangkahkan kaki menuju kamarku tanpa memedulikannya. Dia terus saja mengataiku dengan berbagai macam kata umpatan yang sudah biasa aku dengar.
Seperti inilah kehidupanku, dengan segala keburukan yang ada pada diriku tidak ada yang mau menjadi temanku. Kamarku kini menjadi saksi bisu tentang apa yang kualami. Semua ini tidak akan berubah sampai maut bertindak.
Malam yang kelam, tak ada bulan tak ada bintang. Kubuka lagi laci yang biasa kujadikan tempat untuk menaruh barang-barang -yang kata mereka- haram. Aku tidak peduli lagi dengan hidupku, untuk apa aku hidup, toh, semua orang membenciku. Membenci segala hal yang ada pada diriku. Kutelan lagi obat itu. Aku ingin tenang, segala hal yang kualami ini menyiksaku. Hanya dengan ini aku bisa merasa lebih tenang. Setelahnya, aku tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi padaku.
Dia bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti alur dalam melodi
Cahaya itu bak siluet yang terus saja memainkan melodi indahnya. Dapat kulihat meski dalam kegelapan, siluet gadis anggun dengan wajah lemah lembutnya. Gadis itu mendekatiku yang tersudut dalam kegelapan. Terus mendekat kea rahku. Saat dia sudah berada didepanku aku terkejut dengan apa yang kulihat. Dia adalah...
Aku terbangun dari tidurku, ini adalah untuk yang kelima kalinya aku bermimpi hal yang serupa. Suara pintu yang digedor-gedor menyadarkanku dari khayalan tentang mimpiku malam tadi.
“Heh! Anak tak tahu diuntung, cepat bangun! Saya tahu kau sudah dikeluarkan dari sekolah. Jangan malas-malasan saja di tempat tidur, ayo bangun! Cepat bersihkan semua ruangan yang ada dirumah ini!”.
Huh, hidupku tak akan pernah tenang disini. Setiap saat pasti akan penuh dengan siksaan.
“Heeeyyyy, cepat bangun! Pantas saja kau dikeluarkan dari sekolah, kau dan semua barang busukmu itu tak pantas berada diantara orang-orang, seharusnya kau sadar itu. Kalau bukan karena perjanjian itu aku tak sudi serumah denganmu,”.
Cacian dan makian adalah sarapan pagiku. Wanita itu adalah salah satu karyawan kepercayaan ayahku –dulu. Saat itu ayah sangat percaya padanya, mengingat pekerjaannya selalu dilakukan dengan benar, tetapi wanita tersebut telah dibutakan oleh harta yang dimiliki ayahku. Dia ingin mengambil alih semuanya. Tanpa sepengetahuan ayahku, dia bersekongkol dengan musuh bebuyutan dari perusahaan ayahku. Mereka merencanakan semua agar mereka bisa menjatuhkan ayahku. Itulah caranya, membunuh ayahku.
Sejak kematian ayah dan ibuku dalam kecelakaan itu, aku merasa hidupku sudah berakhir. Bagaimana tidak? Kedua orang yang aku sayangi telah pergi meninggalkanku. Sejak saat itu pula dia -wanita kepercayaan ayahku itu- berubah menjadi seekor macan yang menganggap diriku sampah yang hanya menumpang dirumahnya, padahal jelas-jelas itu rumahku. Sebagai pelarian rasa sedih dan kesal aku mulai mengonsumsi barang-barang yang selama ini sangat aku jauhi. Ya, itulah awal mula aku mencobanya, saat salah satu temanku memberiku barang haram tersebut. Memang, barang tersebut mampu memberi ketenangan bagi pemakainya.
Lama-kelamaan aku semakin bergantung pada barang tersebut. Setiap hari aku selalu mengonsumsinya. Hingga berdampak pada tubuhku yang semakin kurus dan terlihat tak terawat.
Hari itu hari dimana aku sedang istirahat di sekolahku. Sebagai seorang yang telah bergantung pada barang haram itu, aku tak mampu menahan untuk tidak mengonsumsinya. Aku lalu menelan pil tersebut di dalam toilet, tanpa kusangka guruku yang selama ini telah menaruh curiga mendapatiku tengah menelan pil tersebut. Maka hari itu juga aku dikeluarkan dari sekolah.
“Heeyyy, anak sial! Kau tuli, hah? Cepat keluar!”.
Cacian itu membuyarkan lamunanku. Aku pun berjalan keluar kamar, lalu menatap wanita itu dengan tatapan ingin membunuh.
“Heyyy, anak sial! Cepat kerjakan apa yang saya suruh!”.
“Gue nggak mau!” jawabku ketus.
Tanpa pikir panjang wanita itu menyeretku ke kamar mandi lalu menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi. Sudah biasa ini terjadi. Ya, memang sudah biasa. Akhirnya dengan terpaksa aku mulai mengerjakan semua perintahnya. Tentu masih dengan diiringi dengan cacian dan makian. Kali ini tubuhku sudah tak mampu lagi untuk bekerja. Dunia berputar dan detik berikutnya semua gelap tak ada cahaya.
Dia bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti alur dalam melodi
Memainkan simponi indah penyejuk hati
Melantukan bait indah melebur lara
Senyum cantik tak pernah lepas dari bibirnya
Cahaya itu kini bak siluet yang terus saja memainkan melodi indahnya. Dapat kulihat meski dalam kegelapan, siluet gadis anggun dengan wajah lemah lembutnya. Gadis itu mendekatiku yang tersudut dalam kegelapan. Terus mendekat ke arahku. Saat dia sudah berada di depanku, aku terkejut dengan apa yang kulihat. Dia adalah  aku. Aku dalam balutan gaun indah dengan senyum manis yang pernah kulihat dulu. Dulu, saat aku masih mampu tersenyum seperti itu. Dia pun membelai wajahku, seakan berkata inilah kau yang sebenarnya. Mataku terpejam menikmati kelembutan belaiannya. Saat itu juga aku tahu, inilah saat terakhirku. Tuhan terima kasih kau akan mempertemukanku dengan kedua orangtuaku.
Lihatlah, kau akan rasakan akibat dari semua kelakuanmu, Wanita Pengkhianat!

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography