Oleh Annisa Oktaviani Putri
Dia
bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti
alur dalam melodi
Memainkan
simponi indah penyejuk hati
Aku gadis kecil dalam balutan setan, melangkah dalam
kegelapan Sang Pencipta. Indah rerumputan memesona menjadi saksi bisu isi jiwa.
Menatap sekelilingku, berbagai macam barang haram menjadi temanku menjalani
masa remaja. Kau pasti heran, Kawan, mengapa aku disini menatap langit biru
dengan tatapan kosong yang menyedihkan? Heh, terlalu muluk bila aku berharap ada
orang yang menanyaiku seperti itu. Kau tahu, beberapa jam lalu, aku masih menjadi
seorang siswi. Detik ini tidak, aku sudah keluar dari sana. Bukan mauku, hanya
saja mereka-semua orang di sekolahku, tak bisa mengerti tetang apa yang
kurasakan. Mereka hanya tahu bahwa aku bagaikan kutu busuk yang perlu mereka
singkirkan. Ya, ya, ya, aku memang kutu busuk yang perlu disingkirkan,
mengingat aku hanya akan mengotori tempat mereka yang katanya suci.
Kupejamkan mataku, merasakan sejuknya angin yang menerpa
wajahku. Bagaikan senandung penyejuk jiwa, angin bisu adalah temanku. Angin tak
pernah membeciku, mereka selalu menerima kehadiranku disini. Ingatanku kembali
ke dua tahun lalu.
***
Gadis
kecil itu tengah bermain dengan orangtuanya. Mereka bahagia, sangat bahagia. Senyum
manis tak pernah lepas dari wajah sang gadis. Tawa canda bersama orangtua
menjadi penyejuk hati. Sang ayah sangat memanjakan gadis kecilnya, berbagai
macam mainan menghiasi setiap sudut rumah nan megah. Layaknya seorang putri
yang tinggal di sebuah istana.
Sampai
suatu ketika semua itu terjadi, sebuah kejadian besar yang memutarbalikkan
keadaan. Orangtuaku mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa mereka. Aku tahu
kecelakaan itu adalah sebuah rekayasa seperti dalam drama, hanya saja
orangtuaku benar-benar tak bernyawa dibuatnya. Aku tahu mereka merekayasa ini
semua, sebagai balasan kebaikan ayahku yang telah menolong mereka -orang tidak
tahu diri. Mereka mengiginkan jabatan ayahku sebagai seorang direktur utama di
perusahaan yang telah dibangun ayah dengan susah payah. Padahal seharusnya, mereka
bersyukur dengan apa yang telah mereka dapat. Lalu, mereka mengambil takhta
ayah dengan cara membunuhnya.
Bukan salah ayahku menjadi seorang yang kaya raya, bukan
salah ayahku menjadi direktur utama. Kurasa ayah pantas mendapatka itu semua.
Tekad yang kuat serta kegigihan ayah patut dihargai dengan kesuksesan yang
didapatkannya. Kini mereka mendapatkan takhta ayah, hanya saja kuyakin takkan
lama semua akan berbalik menghukum mereka.
***
Kubuka mataku menatap senja yang mulai hinggap kala surya
beranjak menuju peraduannya. Saatnya kembali, menuju tempat peristirahatan
seperti neraka.
Aku
masih di sini, tinggal di rumah megah yang tak lagi berwarna. Sejenak aku
berusaha mengingat semua kebahagiaan yang dulu tercipta, hanya saja semua itu
sirna kala wanita anggun dengan bibir merah merona menatapku tajam ketika aku
mulai memasuki rumah.
“Darimana
saja kau? Dasar gadis jalang sudah malam begini baru pulang?”
Aku
hanya menatapnya sinis, tak mau menanggapi kata-kata kasar yang dilontarkannya.
Dengan jengkel aku melangkahkan kaki menuju kamarku tanpa memedulikannya. Dia
terus saja mengataiku dengan berbagai macam kata umpatan yang sudah biasa aku
dengar.
Seperti
inilah kehidupanku, dengan segala keburukan yang ada pada diriku tidak ada yang
mau menjadi temanku. Kamarku kini menjadi saksi bisu tentang apa yang kualami.
Semua ini tidak akan berubah sampai maut bertindak.
Malam
yang kelam, tak ada bulan tak ada bintang. Kubuka lagi laci yang biasa
kujadikan tempat untuk menaruh barang-barang -yang kata mereka- haram. Aku
tidak peduli lagi dengan hidupku, untuk apa aku hidup, toh, semua orang
membenciku. Membenci segala hal yang ada pada diriku. Kutelan lagi obat itu.
Aku ingin tenang, segala hal yang kualami ini menyiksaku. Hanya dengan ini aku
bisa merasa lebih tenang. Setelahnya, aku tidak tahu lagi dengan apa yang
terjadi padaku.
Dia
bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti
alur dalam melodi
Cahaya
itu bak siluet yang terus saja memainkan melodi indahnya. Dapat kulihat meski
dalam kegelapan, siluet gadis anggun dengan wajah lemah lembutnya. Gadis itu
mendekatiku yang tersudut dalam kegelapan. Terus mendekat kea rahku. Saat dia
sudah berada didepanku aku terkejut dengan apa yang kulihat. Dia adalah...
Aku
terbangun dari tidurku, ini adalah untuk yang kelima kalinya aku bermimpi hal
yang serupa. Suara pintu yang digedor-gedor menyadarkanku dari khayalan tentang
mimpiku malam tadi.
“Heh!
Anak tak tahu diuntung, cepat bangun! Saya tahu kau sudah dikeluarkan dari
sekolah. Jangan malas-malasan saja di tempat tidur, ayo bangun! Cepat bersihkan
semua ruangan yang ada dirumah ini!”.
Huh,
hidupku tak akan pernah tenang disini. Setiap saat pasti akan penuh dengan
siksaan.
“Heeeyyyy,
cepat bangun! Pantas saja kau dikeluarkan dari sekolah, kau dan semua barang
busukmu itu tak pantas berada diantara orang-orang, seharusnya kau sadar itu.
Kalau bukan karena perjanjian itu aku tak sudi serumah denganmu,”.
Cacian
dan makian adalah sarapan pagiku. Wanita itu adalah salah satu karyawan
kepercayaan ayahku –dulu. Saat itu ayah sangat percaya padanya, mengingat
pekerjaannya selalu dilakukan dengan benar, tetapi wanita tersebut telah
dibutakan oleh harta yang dimiliki ayahku. Dia ingin mengambil alih semuanya.
Tanpa sepengetahuan ayahku, dia bersekongkol dengan musuh bebuyutan dari
perusahaan ayahku. Mereka merencanakan semua agar mereka bisa menjatuhkan
ayahku. Itulah caranya, membunuh ayahku.
Sejak
kematian ayah dan ibuku dalam kecelakaan itu, aku merasa hidupku sudah
berakhir. Bagaimana tidak? Kedua orang yang aku sayangi telah pergi meninggalkanku.
Sejak saat itu pula dia -wanita kepercayaan ayahku itu- berubah menjadi seekor
macan yang menganggap diriku sampah yang hanya menumpang dirumahnya, padahal
jelas-jelas itu rumahku. Sebagai pelarian rasa sedih dan kesal aku mulai
mengonsumsi barang-barang yang selama ini sangat aku jauhi. Ya, itulah awal
mula aku mencobanya, saat salah satu temanku memberiku barang haram tersebut.
Memang, barang tersebut mampu memberi ketenangan bagi pemakainya.
Lama-kelamaan
aku semakin bergantung pada barang tersebut. Setiap hari aku selalu
mengonsumsinya. Hingga berdampak pada tubuhku yang semakin kurus dan terlihat
tak terawat.
Hari
itu hari dimana aku sedang istirahat di sekolahku. Sebagai seorang yang telah
bergantung pada barang haram itu, aku tak mampu menahan untuk tidak
mengonsumsinya. Aku lalu menelan pil tersebut di dalam toilet, tanpa kusangka
guruku yang selama ini telah menaruh curiga mendapatiku tengah menelan pil
tersebut. Maka hari itu juga aku dikeluarkan dari sekolah.
“Heeyyy,
anak sial! Kau tuli, hah? Cepat keluar!”.
Cacian
itu membuyarkan lamunanku. Aku pun berjalan keluar kamar, lalu menatap wanita
itu dengan tatapan ingin membunuh.
“Heyyy,
anak sial! Cepat kerjakan apa yang saya suruh!”.
“Gue
nggak mau!” jawabku ketus.
Tanpa
pikir panjang wanita itu menyeretku ke kamar mandi lalu menenggelamkan kepalaku
ke dalam bak mandi. Sudah biasa ini terjadi. Ya, memang sudah biasa. Akhirnya
dengan terpaksa aku mulai mengerjakan semua perintahnya. Tentu masih dengan diiringi
dengan cacian dan makian. Kali ini tubuhku sudah tak mampu lagi untuk bekerja.
Dunia berputar dan detik berikutnya semua gelap tak ada cahaya.
Dia
bak cahaya dalam kegelapan
Mengikuti
alur dalam melodi
Memainkan
simponi indah penyejuk hati
Melantukan
bait indah melebur lara
Senyum
cantik tak pernah lepas dari bibirnya
Cahaya
itu kini bak siluet yang terus saja memainkan melodi indahnya. Dapat kulihat
meski dalam kegelapan, siluet gadis anggun dengan wajah lemah lembutnya. Gadis
itu mendekatiku yang tersudut dalam kegelapan. Terus mendekat ke arahku. Saat
dia sudah berada di depanku, aku terkejut dengan apa yang kulihat. Dia
adalah aku. Aku dalam balutan gaun indah
dengan senyum manis yang pernah kulihat dulu. Dulu, saat aku masih mampu
tersenyum seperti itu. Dia pun membelai wajahku, seakan berkata inilah kau yang
sebenarnya. Mataku terpejam menikmati kelembutan belaiannya. Saat itu juga aku
tahu, inilah saat terakhirku. Tuhan terima kasih kau akan mempertemukanku
dengan kedua orangtuaku.
Lihatlah,
kau akan rasakan akibat dari semua kelakuanmu, Wanita Pengkhianat!

0 komentar:
Posting Komentar