Jumat, 02 Januari 2015

Takut

Oleh Ega Kusuma

Pernahkah kau merasa takut? Merasa gentar dan ngeri menghadapi sesuatu yang kau anggap akan mendatangkan bencana. Semua orang pernah merasa takut. Sekarang aku takut. Aku serasa mati. Aku tak punya mimpi. Aku tak tahu apa yang harus aku impikan. Semua terasa jauh, samar-samar dan tak berujung. Haruskah aku tetap berbaring di sini dan menanti esok hari? Tidak! Jelas aku tahu jawabannya adalah tidak. Namun tubuhku tak mau bergerak.   Pikiranku tak bisa menguasai tubuhku. Aku tenggelam dalam ketakutanku.
                                                                  * * *
“Hei, tidakkah seharusnya kau bangun dan memulai hari ini?” sebuah suara menggema.
“Aku takut memulai hari. Tak ada yang akan kuperjuangkan. Semuanya buntu!” ucapku.
“Lalu apa yang akan kaulakukan ?” tanyanya.
“Berbaring di sini dan biarkan waktu berjalan. Aku ingin masa depan menghampiriku. Aku tak ingin mengejarnya. Aku takut mengejarnya,
“Bukankah dengan begitu masa depanmu tidak akan jelas? Maksudku semua hal yang terjadi nanti akan berada di luar rencana, di luar jangkauanmu” tanyanya lagi.
“Ya, maka aku semakin takut. Entah seperti apa masa depan yang benar-benar kuinginkan. Sungguh, dari hati yang terdalam aku ingin sebuah kedamaian. Hidup yang damai di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupanku setelah mati…”
“Lalu?”
“Tapi, sebagian diriku yang lain menginginkan hidup yang penuh ambisi, tantangan, pencapaian. Mengejar kejayaan, harta, prestise, dan petualangan,
“Apa masalahnya? Lakukan saja, rencanamu sudah baik,” katanya.
“Kaupikir gampang menyatukan keinginan yang sederhana itu dengan pencapaian-pencapaian rumit? Ini dunia yang realisitis kawan. Aku takut hidupku nanti tak bahagia. Tapi aku juga takut menyia-nyiakan masa mudaku. Hanya inilah kesempatanku untuk berkeliling dan mengunjungi berbagai tempat. Memenuhi hasrat bertualangku. Aku bimbang! Aku takut! Pada akhirnya aku tak mengambil keputusan apa-apa. Aku diam.”
“Dan menurutmu ini yang terbaik?” dia bertanya lagi.
“Tidak! Jelas ini buruk. Diam tak akan menghasilkan apa-apa. Di masa lalu, aku adalah orang yang aktif. Aku berhasrat untuk melakukan banyak kegiatan. Aku benar-benar mengabaikan hal-hal yang menurutku tidak penting. Aku tidak peduli dengan hal-hal yang kupikir hanya akan membuang-buang waktuku. Dan hasilnya, aku terarah menuju targetku. Sekarang, aku tak lagi bisa memilah mana hal-hal yang penting dan mana hal-hal yang tidak penting. Aku takut dalam memilih. Aku takut pilihanku salah. Aku takut memilih hal yang menurutku penting tapi ternyata tidak penting, dan sebaliknya. Jadi, kupilih semuanya. Dan ternyata itu lebih buruk!”
“Maka sekarang kau cukup bertindak seperti dahulu,” katanya.
“Aku tidak bisa. Aku takut dengan masa laluku. Aku membandingkan diriku yang sekarang dengan dahulu, dan aku selalu kalah dengan masa laluku. Selalu!”
“Biarkan saja masa lalu itu berlalu, katanya.
“Tidak bisa. Orang-orang akan selalu menyebut masa laluku. Aku akan tersiksa perlahan karenanya. Aku tak bias melepas masa laluku begitu saja. Aku tak bisa menghapusnya, selama aku masih hidup dengan identitas ini. Haruskah aku operasi plastik?”
“Sebaiknya tidak karena sekarang masih mahal,” jawabnya.
“Kau benar. Maka harus aku apakan semua hal ini? Aku takut dengan orang-orang yang selalu membicarakan masa laluku. Aku takut mereka kecewa denganku yang sekarang. Aku takut dicap bodoh, tak berguna, konyol dan menyedihkan. Aku takut! Bahkan sekarang aku takut jika air di kamar mandi mati. Aku jadi tak bias mandi,
“Temanku, kau bias melaporkan masalah air ke ibu asrama. Lalu tentang ketakutanmu, ketahuilah, bahwasanya semua orang juga mengalami takut sepertimu. Kau tak sendiri, Bung. Miliaran manusia hidup dengan ketakutannya. Mereka tetap bergerak, tidak berdiam, dan mereka hidup. Benar-benar hidup. Tujuanmu sudah jelas yaitu kehidupan setelah kau mati. Sekarang kau perlu memikirkan sub-sub tujuanmu di dunia,” katanya.
“Itu akan menjadi detail dan akan memakan banyak waktu. Aku takut membuang-buang waktuku. Di sini gerah, aku sebaiknya mandi,
Kuambil handuk dan kubuka pintu kamar mandi. Cklek!
“Eh ya, siapa namamu kawan?” tanyaku.
“Panggil aku hati nurani,” jawabnya.
“Terdengar seperti nama sebuah partai politik,
BLAM!

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography