Oleh Febri Rahmania
Bahkan pada titik tertinggi aku
cemburu pada siapa pun yang lebih sempurna di hadapanku, aku –sepantasnya- mesti sangat
bersyukur telah menjadi diriku sendiri,
Aku
ingat Zubaidar, anak tetangga nenek. Ia gadis yang manis seumuran denganku. Zubaidar
tak sekolah lagi karena kesulitan ekonomi. Terakhir kudengar ia merantau ke
Batam.
Pada
suatu libur kuliah, aku melewati rumahnya. Seorang lelaki tersenyum padaku dari
balik jendela rumah papan Zubaidar.
“Lena!”
Ia memanggilku. Potongan rambutnya ala anak band
masa kini, lengkap dengan segala aksesoris punk-rocknya,
gelang karet hitam, kalung rantai juga kaos hitam yang kedua lengannya digulung
keluar. Aku hampir tidak mengenali sedikit pun. Tapi tahi lalat di ujung hidung
itu memang tidak bisa dimanipulasi. Cilalek
Zubaidar!
“Bagaimani kabarmu, Na? Kudengar kau kuliah di
Medan?” Zubaidar bertanya, suaranya diberat-beratkan seperti laki-laki. Berbicara
dengannya sekarang ini aku agak cemas, jangan-jangan orientasi seksual Zubaidar
juga telah berubah.
Sebelum
minggat dari serambi rumah Zubaidar, anduang, Neneknya Zubaidar, datang dari
arah dapur rumah kayu itu, menawariku masuk.
“Akan
ke mana kau, Nak? Singgahlah dulu. La, la, sudah lama kau tidak pulang,” seru
Anduang. Ia bilang dapat durian jatuh
dalam perjalanan pulang dari ladang dan sekarang sedang menanak pulut. Tawaran
yang sangat menggiurkan, sulit benar ditolak. Tapi keterkejutanku terhadap
penampilan baru Zubaidar telah menghilangkan nafsu makan. Aku lantas permisi
pulang pada perempuan tua itu. Bilang aku buru-buru, mencarikan daun pepaya
untuk obat sakit perut nenek.
Sepanjang
jalan pulang aku memikirkan Zubaidar. Namun
aku lebih memikirkan anduang, Neneknya Zubaidar. Pastilah ia sama terkejutnya
denganku. Kok, mau anduang menerima cucunya jadi seperti itu?
Ah,
bicara soal menerima, anduang sudah pasrah terlalu sering. Hatinya barangkali
sudah terlatih, biasa menerima kenyataan hidup yang tak seindah sinetron yang ditontonnya
saban malam, di tivi tetangga.
Anduang
setiap hari ke sawah: lelong. Di desa-desa di Sumatera Barat sana, ibu-ibu
keluarga petani memiliki kelompok lelongnya
masing-masing. Pada masa bertanam benih, mereka bergotong royong membantu
menanam bakal padi di sawah ibu lainnya, bergiliran. Itulah yang disebut malelong. Sedangkan ibu petani yang
tidak punya sawah, ikut bekerja dan mendapat upah beras setelah panen. Semacam
pekerja outsourcing, namun berasaskan
kekeluargaan.
Anduang
adalah jenis yang terakhir, ia tak punya sepiring pun sawah. Cukup sekali
pandang saja orang akan tahu ada setumpuk derita tersembunyi di balik tawa yang
mempertontonkan deretan gigi kuning-kehitaman itu. Setiap kerut di wajahnya seolah
memberi tahu sebanyak itu juga ia telah merasai beragam kesulitan hidup.
Anduang
sudah menjanda begitu lama dan membesarkan
sendiri Uni Jeh, emaknya Zubaidar. Umur Ni Jeh baru tujuh belas tahun saat entah
laki-laki mana menghamilinya. Dukun beranak terlambat datang saat Zubaidar
lahir dan Uni jeh meregang nyawa kehabisan darah. Memang tragedi seolah biasa
terjadi pada kehidupan orang miskin. Begitu barangkali cara Tuhan mengajarkan
manusia agar giat belajar dan bekerja, biar tak bodoh dan miskin.
“Perempuan, memang harus selalu pandai menahan,”
begitu yang sering dinasehatkan Anduang pada ibu-ibu tetangga.
Di
luar hujan lebat, aku dan Zubaidar duduk di ruang tamu rumah nenekku.
“Mengapa
begini kau sekarang, Dar?” aku menatapnya lurus-lurus. Bertanya blak-blakan. Kami
duduk berseberangan di kursi rotan. Zubaidar menghela napas panjang, memalingkan
wajah. Lihat, bahkan cara dia mengerutkan kening-agak kesal oleh pertanyaanku-
persis reaksi seorang laki-laki.
“Aku
bekerja di pabrik roti dan harus lembur sampai malam. aAku begini untuk melindungi
diri, susah jadi perawan di kota besar, sangat tidak aman,” ia menjawab lugas.
Dalam
pandanganku Zubaidar sungguh melawan kodrat. “Tapi dalam agama kita, Tuhan
mengutuk laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang meniru
laki-laki,” ceramahku.
“Aku
tidak minta dilahirkan jadi perempuan,” Zubaidar menjawab ketus. Sial, apa yang
sudah merasuki pemikiran Zubaidar hingga ia seperti ini? Aku terkaget juga,
baru kali ini Zubaidar mendebatku.
“Jadi
perempuan itu merasai, punya muka
cantik susah, buruk apa lagi,” santai sekali ia bicara. Meski sedikit menyesal
telah menginterogasi Zubaidar, pengalamanku ikut pelatihan konselor sebaya
mengajarkan beberapa hal mendasar dalam konseling. Aku menatap daerah T wajah klienku, memasang ekspresi peduli,
mencondongkan tubuh ke arah Zubaidar -yang kini jadi klienku- mendengarkannya
sepenuh hati.
“Na, untuk saat ini aku tidak mau jadi
perempuan, kaulihat Anduang? Akan begitulah semua perempuan nantinya, tua dan
sendiri, ditinggal laki,” Zubaidar
seperti mencurahkan suara hati terdalamnya padaku. Sepertinya ia letih dengan
kenangan putus sekolah dan kini mesti bekerja. Ya Tuhan, betapa kurang
bersyukurnya aku dengan kesempatan yang kumiliki untuk melanjutkan pendidikan.
“Habis
manis sepah dibuang, itulah perempuan, Na,” Zubaidar berkata, tatapannya jauh seperti
berusaha mengingat sesuatu.
Zubaidar
bilang di Batam ia mengikuti serikat buruh perempuan dan telah banyak mendengar
suka duka kawan-kawan seprofesinya. Ada yang bekerja di pabrik tripleks,
tekstil, ataupun industri makanan. Ia sendiri berdiri sepanjang hari mengemas
berkarton-karton roti.
“Jadi
kau akan begini selamanya?” aku memotong cerita Zubaidar. Menunjuk dengan
isyarat mata pada keseluruhan tampilan Zubaidar hari ini. Jins robek-robek di
bagian lutut dan kaus abu-abu. “Siapa
yang akan tahu masa depan, Na?”
Puluhan
purnama berlalu, aku menikah dan mengikuti suamiku yang bekerja di Batam. Ia mengelola
sebuah perusahaan cabang penyedia layanan internet yang terkenal. Aku sendiri kepala
bagian pelayanan kantor perpustakaan dan arsip di Batam.
Minggu
pagi yang cerah saat aku menghadiri pengajian di Masjid Agung Batam. Aku
tertarik mengambil beberapa foto dari atas menara masjid yang tingginya 66 meter. Aku baru saja akan
menaiki tangga menara ketika seorang perempuan berjilbab lebar mendatangiku. Meski
agak bingung, aku tersenyum juga. Wajahnya teduh dan memancarkan aura kelembutan,
gamis marun bermotif garis-garis
vertikal melingkupi seluruh tubuh perempuan ini. Aku benar-benar tidak
mengenalnya sampai tahi lalat di ujung hidung itu-lagi- tidak bisa menipu. Cilalek Zubaidar!
“Kau
tak berubah, Na,” ia tertawa kecil. Binar matanya menunjukkan kebahagiaan
sekaligus ketenangan yang dalam. Aku memandangnya dari atas hingga bawah, “Kau
sudah menemukan dirimu, Dar?”.
Ketika
pengajian selesai Zubaidar mengisahkan bagaimana ia mendapat hidayah saat jadi
buruh di pabrik mukena. Melihat mukena ia teringat anduangnya, anduang yang
mukenanya apek dan lusuh, mukena Anduang yang sudah entah berapa kali lebaran
tak berganti. Anduang yang pernah ia tinggalkan sebagai bentuk protes pada
nasib. Ia merasa harus mencari tahu lagi tentang jadi
siapa dan bagaimana ia seharusnya dalam hidup. Zubaidar mulai banyak membaca buku-buku.
“Kau tahu Na, aku sangat mensyukuri jadi
diriku seutuhnya. Tuhan meletakkan kita pada posisi yang istimewa, salah
satunya dengan menganugerahkan kita kemampuan merawat dan mengurus laki-laki dengan
tangan kita sendiri, laki-laki bukan apa-apa tanpa perempuan, Na,” Zubaidar bilang
saat ini tinggal bersamanya, dan
Zubaidar sendiri sudah berkeluarga.
“Bukankah
setelah berkeluarga dan menjadi perempuan sebenarnya, kita jadi tidak bebas,
Dar? Pilihan kita terbatas,” aku bertanya retoris. Zubaidar lalu memandang jauh
pada barisan pohon krei payung di halaman masjid dan sambil tersenyum ia bilang,
“Dalam pikiran kita selalu bebas, Na,”
Aku
seperti pernah membaca kata-kata itu dalam sebuah buku, tapi lupa siapa yang
menulisnya.
Sementara
itu matahari meninggi dan udara Batam makin gerah, kami beranjak pergi.
Laki-laki di rumah akan terlantar bila kami tidak pulang.
Merasai = menderita
Laki
=
Suami
Cilalek
= tahi lalat

0 komentar:
Posting Komentar