Jumat, 02 Januari 2015

Zubaidar

Oleh Febri Rahmania

Bahkan pada titik tertinggi aku cemburu pada siapa pun yang lebih sempurna di hadapanku, aku –sepantasnya- mesti sangat bersyukur telah menjadi diriku sendiri,
Aku ingat Zubaidar, anak tetangga nenek. Ia gadis yang manis seumuran denganku. Zubaidar tak sekolah lagi karena kesulitan ekonomi. Terakhir kudengar ia merantau ke Batam.
Pada suatu libur kuliah, aku melewati rumahnya. Seorang lelaki tersenyum padaku dari balik jendela rumah papan  Zubaidar.  
“Lena!” Ia memanggilku. Potongan rambutnya ala anak band masa kini, lengkap dengan segala aksesoris punk-rocknya, gelang karet hitam, kalung rantai juga kaos hitam yang kedua lengannya digulung keluar. Aku hampir tidak mengenali sedikit pun. Tapi tahi lalat di ujung hidung itu memang tidak bisa dimanipulasi. Cilalek Zubaidar!
 “Bagaimani kabarmu, Na? Kudengar kau kuliah di Medan?” Zubaidar bertanya, suaranya diberat-beratkan seperti laki-laki. Berbicara dengannya sekarang ini aku agak cemas, jangan-jangan orientasi seksual Zubaidar juga telah berubah.
Sebelum minggat dari serambi rumah Zubaidar, anduang, Neneknya Zubaidar, datang dari arah dapur rumah kayu itu, menawariku masuk.
“Akan ke mana kau, Nak? Singgahlah dulu. La, la, sudah lama kau tidak pulang,” seru Anduang.  Ia bilang dapat durian jatuh dalam perjalanan pulang dari ladang dan sekarang sedang menanak pulut. Tawaran yang sangat menggiurkan, sulit benar ditolak. Tapi keterkejutanku terhadap penampilan baru Zubaidar telah menghilangkan nafsu makan. Aku lantas permisi pulang pada perempuan tua itu. Bilang aku buru-buru, mencarikan daun pepaya untuk obat sakit perut nenek.
Sepanjang jalan pulang aku memikirkan Zubaidar. Namun aku lebih memikirkan anduang, Neneknya Zubaidar. Pastilah ia sama terkejutnya denganku. Kok, mau anduang menerima cucunya jadi seperti itu?
Ah, bicara soal menerima, anduang sudah pasrah terlalu sering. Hatinya barangkali sudah terlatih, biasa menerima kenyataan hidup yang tak seindah sinetron yang ditontonnya saban malam, di tivi tetangga.
Anduang setiap hari ke sawah: lelong.  Di desa-desa di Sumatera Barat sana, ibu-ibu keluarga petani memiliki kelompok lelongnya masing-masing. Pada masa bertanam benih, mereka bergotong royong membantu menanam bakal padi di sawah ibu lainnya, bergiliran. Itulah yang disebut malelong. Sedangkan ibu petani yang tidak punya sawah, ikut bekerja dan mendapat upah beras setelah panen. Semacam pekerja outsourcing, namun berasaskan kekeluargaan.
Anduang adalah jenis yang terakhir, ia tak punya sepiring pun sawah. Cukup sekali pandang saja orang akan tahu ada setumpuk derita tersembunyi di balik tawa yang mempertontonkan deretan gigi kuning-kehitaman itu. Setiap kerut di wajahnya seolah memberi tahu sebanyak itu juga ia telah merasai beragam kesulitan hidup.
Anduang sudah menjanda  begitu lama dan membesarkan sendiri Uni Jeh, emaknya Zubaidar. Umur Ni Jeh baru tujuh belas tahun saat entah laki-laki mana menghamilinya. Dukun beranak terlambat datang saat Zubaidar lahir dan Uni jeh meregang nyawa kehabisan darah. Memang tragedi seolah biasa terjadi pada kehidupan orang miskin. Begitu barangkali cara Tuhan mengajarkan manusia agar giat belajar dan bekerja, biar tak bodoh dan miskin.
 “Perempuan, memang harus selalu pandai menahan,” begitu yang sering dinasehatkan Anduang pada ibu-ibu tetangga.
Di luar hujan lebat, aku dan Zubaidar duduk di ruang tamu rumah nenekku.
“Mengapa begini kau sekarang, Dar?” aku menatapnya lurus-lurus. Bertanya blak-blakan. Kami duduk berseberangan di kursi rotan.  Zubaidar menghela napas panjang, memalingkan wajah. Lihat, bahkan cara dia mengerutkan kening-agak kesal oleh pertanyaanku- persis reaksi seorang laki-laki.
“Aku bekerja di pabrik roti dan harus lembur sampai malam. aAku begini untuk melindungi diri, susah jadi perawan di kota besar, sangat tidak aman,” ia menjawab lugas.
Dalam pandanganku Zubaidar sungguh melawan kodrat. “Tapi dalam agama kita, Tuhan mengutuk laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki,” ceramahku.
“Aku tidak minta dilahirkan jadi perempuan,” Zubaidar menjawab ketus. Sial, apa yang sudah merasuki pemikiran Zubaidar hingga ia seperti ini? Aku terkaget juga, baru kali ini Zubaidar mendebatku.
“Jadi perempuan itu merasai, punya muka cantik susah, buruk apa lagi,” santai sekali ia bicara. Meski sedikit menyesal telah menginterogasi Zubaidar, pengalamanku ikut pelatihan konselor sebaya mengajarkan beberapa hal mendasar dalam konseling. Aku menatap daerah T  wajah klienku, memasang ekspresi peduli, mencondongkan tubuh ke arah Zubaidar -yang kini jadi klienku- mendengarkannya sepenuh hati.
 “Na, untuk saat ini aku tidak mau jadi perempuan, kaulihat Anduang? Akan begitulah semua perempuan nantinya, tua dan sendiri, ditinggal laki,” Zubaidar seperti mencurahkan suara hati terdalamnya padaku. Sepertinya ia letih dengan kenangan putus sekolah dan kini mesti bekerja. Ya Tuhan, betapa kurang bersyukurnya aku dengan kesempatan yang kumiliki untuk melanjutkan pendidikan.
“Habis manis sepah dibuang, itulah perempuan, Na,” Zubaidar berkata, tatapannya jauh seperti berusaha mengingat sesuatu.
Zubaidar bilang di Batam ia mengikuti serikat buruh perempuan dan telah banyak mendengar suka duka kawan-kawan seprofesinya. Ada yang bekerja di pabrik tripleks, tekstil, ataupun industri makanan. Ia sendiri berdiri sepanjang hari mengemas berkarton-karton roti.
“Jadi kau akan begini selamanya?” aku memotong cerita Zubaidar. Menunjuk dengan isyarat mata pada keseluruhan tampilan Zubaidar hari ini. Jins robek-robek di bagian lutut dan kaus abu-abu.  “Siapa yang akan tahu masa depan, Na?”
Puluhan purnama berlalu, aku menikah dan mengikuti suamiku yang bekerja di Batam. Ia mengelola sebuah perusahaan cabang penyedia layanan internet yang terkenal. Aku sendiri kepala bagian pelayanan kantor perpustakaan dan arsip di Batam.
Minggu pagi yang cerah saat aku menghadiri pengajian di Masjid Agung Batam. Aku tertarik mengambil beberapa foto dari atas menara masjid  yang tingginya 66 meter. Aku baru saja akan menaiki tangga menara ketika seorang perempuan berjilbab lebar mendatangiku. Meski agak bingung, aku tersenyum juga. Wajahnya teduh dan memancarkan aura kelembutan,  gamis marun bermotif garis-garis vertikal melingkupi seluruh tubuh perempuan ini. Aku benar-benar tidak mengenalnya sampai tahi lalat di ujung hidung itu-lagi- tidak bisa menipu. Cilalek Zubaidar!
“Kau tak berubah, Na,” ia tertawa kecil. Binar matanya menunjukkan kebahagiaan sekaligus ketenangan yang dalam. Aku memandangnya dari atas hingga bawah, “Kau sudah menemukan dirimu, Dar?”.
Ketika pengajian selesai Zubaidar mengisahkan bagaimana ia mendapat hidayah saat jadi buruh di pabrik mukena. Melihat mukena ia teringat anduangnya, anduang yang mukenanya apek dan lusuh, mukena Anduang yang sudah entah berapa kali lebaran tak berganti. Anduang yang pernah ia tinggalkan sebagai bentuk protes pada nasib. Ia merasa harus mencari tahu lagi tentang  jadi siapa dan bagaimana ia seharusnya dalam hidup.  Zubaidar mulai banyak membaca buku-buku.
 “Kau tahu Na, aku sangat mensyukuri jadi diriku seutuhnya. Tuhan meletakkan kita pada posisi yang istimewa, salah satunya dengan menganugerahkan kita kemampuan merawat dan mengurus laki-laki dengan tangan kita sendiri, laki-laki bukan apa-apa tanpa perempuan, Na,” Zubaidar bilang saat ini  tinggal bersamanya, dan Zubaidar sendiri  sudah berkeluarga.
“Bukankah setelah berkeluarga dan menjadi perempuan sebenarnya, kita jadi tidak bebas, Dar? Pilihan kita terbatas,” aku bertanya retoris. Zubaidar lalu memandang jauh pada barisan pohon krei payung di halaman masjid dan sambil tersenyum ia bilang, “Dalam pikiran kita selalu bebas, Na,”
Aku seperti pernah membaca kata-kata itu dalam sebuah buku, tapi lupa siapa yang menulisnya.
Sementara itu matahari meninggi dan udara Batam makin gerah, kami beranjak pergi. Laki-laki di rumah akan terlantar bila kami tidak pulang.

Merasai           = menderita
Laki                 = Suami
Cilalek             = tahi lalat

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography