Oleh Abdul Manaf
“Id, kukenang lagi sepotong kisah yang pernah tertinggal di perempatan jalan tua ini beberapa Jumat lalu. Sekarang tempias gerimis menepis halus di ragaku, persis seperti Jumat sebelum kau pergi bersama jeep-mu,
sebelum kerudung abu-abu ini melekat erat di kepalaku.” Sastri seakan berbicara kepada angin yang menerbangkan getar suaranya sore itu. Ia berusaha tegar berdiri, berusaha tidak menjatuhkan air mata.
Klakson kendaraan
yang lalu lalang bersahutan, suara
orang-orang yang sedari tadi melewatinya ikut meramaikan suasana dalam gerimis.Tapi, Sastri tetap sepi, hatinya kecut mengulas cerita lama yang
melekat sudah
di benaknya.
“Id, izinkan aku mengupas. Menguras tanpa tanda kutip; kurasa memang tak perlu menggunakan tanda kutip. Jumat ini.”
***
Sudahlah. Bodoh nian tak kaugunakan kesempatan hidup yang hanya sekali. Setelah itu mati tak akan kembali. Bahkan tak akan pernah. Sekalipun kauperintahkan iblis, setan beserta saudaranya menjemput nyawamu. Tak akan pernah. Ini dunia nyata. Bukan rekaan seperti dongeng-dongeng yang
selalu ditutur ibu ketika kanak-kanak dulu.
Selalu saja kau membantah, Sas. Sikapmu tak pernah berubah. Untung aku bukan saudara kandungmu. Jika iya, ah,
sudahlah! Tak perlu aku analogikan sejauh itu. Lagipula, tujuanku hanya ingin mengungkit masa lalumu. Kukira apa yang hendak kuutarakan ini amatlah berharga sebelum aku pergi ke negeri yang kaubilang negeri antah berantah.
Jangan panjang kata. Jika memanggil untuk mengadili. Aku yang pergi pertama kali sebelum kau pergi selamanya dari hadapanku. Muak sudah mendengar ceramah tanpa ujungmu. Intinya cuma satu. Menjadikan aku seperti apa yang ada di
pikiranmu!
Terserah hendak kauanggap apa. Itu persepsimu dan aku tak punya hak menegur. Hanya saja aku ingin berkata jujur. Dulu aku terkesima denganmu. Bahkan kini pun masih terkesima. Bukan maksud metafora. Menatap sendunya wajahmu yang tersingkap
di balik kerudung abu-abu yang kaukenakan seakan aku bukan berada di dunia nyata.Senyum tipismu yang ayu. Tutur bahasamu yang santun. Kau boleh pikir aku dusta. Tapi, jika engkau jadi aku, dan aku jadi engkau. Kebenaranku bisa terungkap. Sekarang mungkin hanya Tuhan yang tahu jika aku sungguh terkesima. Bersyukur nian Tuhan mempertemukan aku dengan gadis berkerudung abu-abu sepertimu. Tepat setiap hari kamis. Tak ayal jika kamis selalu kutunggu-tunggu. Bukan maksud menunggu kamis, tapi menunggumu, Sas.
Ah! Kau terlalu pintar berujar, Id. Kau metafora. Hendak melambungkan namaku setinggi-tingginya. Lihat saja hari ini. Kerudung abu-abu itu entah kusimpan di mana. Bisa saja terlipat rapi di lemari pakaian, atau... Tunggu dulu. Jadi kau hanya terkesima pada kerudung abu-abuku, Id? Bagaimana denganku hari ini yang tanpa kerudung abu-abu itu?
Tertawa kecil sembari menutup mulut. Id menjawab.
Sudah kukata, terserah kauanggap apa. Tapi, Sas. Aku rindu engkau yang hadir di Jumat-Jumat
yang telah berlalu. Aku rindu getaran pita suaramu mengumandangkan kalam-kalam Tuhan. Aku rindu sayu matamu. Aku rindu kerudung abu-abumu. Aku rindu engkau yang dulu, Sas!
Ah! Harus berapa kali lagi diulangi ucapanku terdahulu. Aku bukan aku yang dulu, ini aku yang baru. Seorang Sastri hendak menggunakan kesempatan hidup yang muncul sekali ini. Tidak ingin mengabaikan apa yang terdampar di
hadapanku. Ini tatanan dunia baru. Tidak membutuhkan aturan-aturan lama.
Tapi, Sas. Dulu…
Dulu apa?
Dulu aku pernah jatuh hati padamu.
Sas tersentak. Urat wajahnya meregang. Lalu menatap lamat Id.
Id…
Aku bicara jujur dari dasar hati dan ideologi. Aku hendak mengajakmu kabur ke taman surga, tempat di mana hati tak bisa dipermainkan orang
ketiga. Aku memang anak pengusaha kaya, bukan maksud aku lancang bicara, bukan membanggakan harta orangtua, pendidikan berkelas utama. Bukan. Tapi cinta mengalir dari hati ke hati.
Id. Apakah engkau yakin dengan ucapanmu? Tidakkah hendak kautarik kembali kata-kata yang
telah kauucapkan?
Dengarkan saja aku bicara, Sas. Jangan memotong perjalanan kata-kataku,
nanti tak kautangkap maknanya, atau malah tak megerti isi hingga timbul tafsiran tak pasti.
Sas mengangguk pelan.
Setiap Jumat kau selalu duduk di bangku depan. Memperhatikan serius pada pelajaran agama yang
disampaikan Kang Uda. Terkadang engkau tersenyum sendiri. Kurasa hatimu tertambat dengan ikatan cinta keimanan. Aku yang duduk di
belakangmu tak lepas memperhatikan tingkahmu, Sas. Boleh dikata aku mata-mata. Bukan maksud lain, mataku adalah mata-mata untuk mendapatkan cintamu, Sas.
Ah, kau romantis, Id. Baru kali
ini aku berjumpa pemuda sepuitis dirimu. Mungkin, di
luar sana banyak pujangga, tapi engkau pujangga yang tepat di
hadapanku, Id. Jika aku boleh angkat bicara. Hatiku tertambat padamu, Id. Jika aku boleh lagi angkat bicara. Aku hendak menarik kata-kata yang
telah terucap dari lisan ini.
Tapi, Sas…
Tapi apa?
Ah, haruskah kuceritakan selaksa peristiwa Jumat-Jumat sebelumnya? Tidakkah engkau lebih mengerti dari aku?
Id, engkau lebih mengerti dari aku.
Sejenak berpikir dan memalingkan wajah.
Jika aku bicara, jangan kauangkat bicara.
Baiklah.
Ternyata, engkau berlaku suci untuk mendapatkan cinta Kang Uda. Selain Jumat kau tak pernah berkerudung, baju kurung, dan melembutkan senandung, Sas. Banyak sudah pahala guru agama kita itu. Parahnya lagi, kau…
Kenapa, Id?
Kau tidak suci lagi. Kang Uda telah merenggut kesucianmu Jumat lalu di rumahmu sendiri. Setahuku, ayah-ibumu tengah naik haji. Ah, Selamat,
Sas. Engkau berhasil mencapai tujuanmu, sepantasnya kau bersyukur pada Tuhan.
Id, jangan engkau fitnah aku!
Sas, cintaku tak ingin terbagi. Cintaku suci. Tak hanya sekadar birahi. Ini bukan fitnah. Beberapa kali Jumat kauulangi. Dan aku senantiasa menyaksikannya sendiri.
Id, dari mana engkau tahu cerita lama itu?
Tak perlu kautanya tentang itu. Setidaknya aku telah mengungkap apa yang seharusnya terungkap. Kini, aku lapang dada pergi selamanya. Kita tak akan pernah berjumpa, Sas!
Id masuk ke dalam mobil jeepnya. Menghidupkan mesin dan segera melaju dengan kecepatan di atas
rata-rata, pergi dari Sastri yang menangis sendiri. Tanpa memperhatikan kiri-kanan ia terus melaju.
Semua terjadi secara tiba-tiba. Bahkan sebelum mata sempat berkedip. Dua mobil kecepatan tinggi dan satu truk menghantam jeep milik Id dan dirinya sendiri dari arah berlawanan.
Iiiid!
Sastri tak bisa berkata apa-apa.
Jatinangor, 24 November 2014

0 komentar:
Posting Komentar