Jumat, 02 Januari 2015

Love Story

Oleh Arif Efendi

Ini bukan sekadar cinta, juga bukan sekadar kegilaan semata. Entahlah apa namanya, namun yang pasti bagiku adalah sebuah rasa yang berharga. Aku pun tak pernah tahu itu apa. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Pun semua terasa berbeda. Tak biasa. Ah, entahlah. Enam tahun yang lalu aku pernah jatuh cinta pada seorang gadis manis yang orang banyak memuja. Namanya Sintia Alya. Ceritanya kami bermusuhan pertama kalinya. Kata orang-orang benci bisa jadi cinta. Seperti sinetron saja, begitulah cara yang paling mudah untuk memikirkan kisahnya.
            Malam buta, aku mengais-ngais cerita yang dulu pernah ada. Mengambil pena dan mulai menuliskan nama mereka yang telah memberi sedikit warna di hidupku yang biasa-biasa saja. Aku berhenti pada sebuah nama. Kenangan itu masih ada, tak ada yang berubah atau pun berbeda. Aku berkali-kali melihat ke belakang untuk memastikan apakah istriku terjaga dari tidurnya. Menyembunyikan apa yang aku tuliskan baru saja. Sedikit malu-malu karena ini rahasia.
***
“Apakah kau pernah jatuh cinta?” tanyaku.
“Kenapa? Kau suka denganku? Kalau begitu menjauhlah, aku tidak pernah suka dengan rumor-rumor yang nanti beredar.” Kata-katanya langsung ke alamatnya kurasa. Memang benar apa yang dikatakannya. Namun tidak begitu caranya. Begitulah aku menilainya. Lalu aku diam saja.
“Hei, kenapa kau menanyakannya?”
“Oh tidak jadi,”
“Kau ini aneh. Tadi bertanya, sekarang tidak jadi. Baik, mungkin pertanyaanmu untuk saat ini ya? Kenapa tidak kautanyakan begini saja, ‘kau sekarang sedang jatuh cinta?’ Atau lebih tepatnya ‘kau sekarang pacaran dengan siapa?’”
“Aku hanya sekedar bertanya saja. Daripada tidak bicara apa-apa, lagian juga tidak bermaksud menanyakan hal yang tidak penting itu,” aku berusaha menjaga wibawa.
“Tidak penting katamu? Aku dengar kamu juga suka denganku? Lalu bagaimana hal seperti ini kaukatakan tidak penting?”
“Sudah kukatakan aku hanya sekedar bertanya, daripada tidak berkata apa-apa. Itu saja. Kau belum menjawab pertanyaanku, Alya.”
“Aku pernah jatuh cinta.”
“Lalu, apakah kau mengambilnya lagi?”
“Maksudmu? Kamu ini benar-benar aneh ya.”
“Maksudku, apakah kau mengabaikannya?”
“Sepertinya kau berharap kalau aku tidak bersama dengan orang lain? Dan akhirnya kau masuk dalam kehidupanku, kan? Dan berharap kau akan jadi kekasihku juga nantinya?”
“Aku tidak mengakuinya.”
“Tapi suatu saat kau akan mengakuinya juga kan? Aku yakin kau menyembunyikan perasaanmu saja.”
“Kenapa kau dapat membaca pikiranku?”
“Karena kau menanyakan hal yang tidak biasa. Hm, ya sudahlah. Sekarang menjauhlah dariku sebelum orang-orang melihat kita”
***
“Kamu kutu buku, mainnya selalu ke perpustakaan, tidak sosialis, ah, ndak keren.”
“Bagus atau tidaknya mahasiswa itu diukur berdasarkan frekuensi dia ke tempat seperti ini. Sekarang pergilah.”
“Kau mengusirku? Apa kau tidak merasa senang karena aku di dekatmu?”
“Tidak. Sekarang kondisinya berbeda, di sini tidak dibutuhkan cantik atau tidaknya seseorang, tapi rajin atau malasnya. Sekarang pergilah!”
“Apa kau pernah jatuh cinta?”
“Tidak. Kurasa aku hanya jatuh cinta saat aku sudah menemukan pekerjaan yang bisa mencari sesuap nasi dan sisanya beli rumah buat istri dan anak-anakku.”
“Kau tidak menyukaiku? Kau jatuh cinta denganku, kan?”
“Apakah kau mendesakku untuk menjatuhkannya padamu? Sekarang pergi kataku. Ini bukan tempat membahas masalah perasaan.”
“Jadi di tempat lain kau akan mengatakannya?”
“Tidak. Karena aku tidak menyukai gadis sepertimu. Aku menyukai dia yang rajin baca buku. Punya indeks prestasi tinggi, dan pastinya lebih cantik darimu.”
“Kau sedang bemimpi, Rik,”
Aku berusaha untuk tidak berdebat lagi dengan Alya. Percuma. Sia-sia saja. Juga karena aku lihat Yola di kejauhan sana. Meski tidak begitu jelas, aku bisa memastikannya dengan melihat baju kuning dengan corak batik penuh bunga. Juga dengan buku-buku tebal ditangannya. Langkahnya yang tergesa-gesa membuat ia cepat sampai pada kami. Bukan kami, tapi aku.
“Selamat siang, Riki. Maaf aku telat. Tadi ada janji sama dosen. Yang di samping pacarmu, Rik?”
“Oh, bukan. Kami hanya menunggu tempat peminjaman buku dibuka. O ya, aku juga lupa dia jurusan mana.”
“Begitu ya, Rik? Maaf aku ke tempat Agus dulu.”
Alya senyum-senyum tak jelas. Tertawa geli,”Jadi itu gadis yang kau inginkan? Rajin, sedikit pendiam, pintar, dari kedokteran pula. Tapi kamu malang, Rik. Meski kau sudah pura-pura tidak kenal denganku tadi, ia masih saja pergi. Oh betapa menyedihkan kamu ini, Rik,” Alya tersenyum puas. “Lalu bagaimana dengan cerita jatuh cintamu?” Lagi-lagi dengan ejekan penuh kemenangan.
“Setidaknya aku tidak jatuh cinta padamu, Cantik.”
“Itu pujian atau sanjungan?”
“Tidak keduanya,”
***
Hari-hari berjalan seperti biasa. Tidak ada salam atau sapa antara aku dan Alya. Tentu saja aku merasa bangga karena tidak menyerah kalah pada rasa. Sebenarnya aku sudah lama suka pada Alya, hanya saja aku tidak mau mengakuinya, dan berusaha mencari tokoh lain untuk menghindarkan rasa itu. Tapi tetap saja aku tak bisa.
            Beberapa hari ini aku jarang bertemu dengannya. Di lab, kafe, atau pun di mana saja di sudut kampus aku tak melihatnya. Awalnya tidak begitu peduli juga. Untuk apa aku mencemaskannya? Ia bukan siapa-siapa, pikirku. Aku mencari-cari. Membalik-balik album foto. Foto-foto saat pelantikan anggota baru Himpunan Mahasiswa Jurusan sebulan yang lalu. Saat itu Alya sedang melihat ke arahku. Sementara aku menoleh ke samping. Terbesit untuk melihat lainnya. Sebuah foto lama. Kenangan dengan gambar sendiri-sendiri, Alya terlihat begitu manis dan anggun. Senyumnya. Mata beningnya. Hidung mancung dengan wajah cantik dan ayu, persis seperti anak seorang raja dalam kisah-kisah di film sejarah. Riak-riak cinta menggelora dan mengombak besar dalam dada. Ada gemuruh. Riuh. Lalu bergejolak membakar jiwa. Tiba-tiba kerinduan datang menyelinap. Aku takut kehilangan Alya.Sekarang ia entah dimana. Hilang. Kasih pergi dengan berputarnya waktu. Pada lembaran yang membuatnya cemburu
***
“Kau menuliskan semuanya, Sayang.” Istriku tiba-tiba membaca tulisanku. Tanpa ku sadari ternyata Alya membaca apa yang kutuliskan baru saja. Mungkin sudah lama ia berdiri di belakangku. Aku memeluknya. Mencium keningnya. “Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, sayang”
“Aku tidak bisa untuk jauh darimu, Suamiku."
Malam semakin dingin. Hanya suara jangkrik yang masih terdengar. Alya pergi ke dapur, dan aku beranjak tidur.



Padang, 2 Desember 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography