Jumat, 02 Januari 2015

Ia Rindu

Oleh Ridha Hayatul Husna


Ketika adzan Maghrib berkumandang, ketika itulah yang tertinggal hanya kerinduan. Tungkai-tungkai kaki melangkah pelan memasuki rumah. Anak-anak ayam bergegas pulang ke kandang, menghangatkan tubuh pada sang induk. Tirai-tirai jendela digeser, srek! Pintu-pintu mulai menutup. Perisitiwa ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa terang telah usai. Giliran malam yang akan menemani. Namun, tidak dengan dirinya. Ia memilih berdiri mematung-diri. Menatap langit sore yang lembayung. Matanya beringas melihat burung-burung berterbangan cepat sekali. Menganggu. Ia mengeluh, tampaknya tak senang dengan burung-burung “menyebalkan” itu.
            Perlahan, ia melangkah memasuki ruangan. Kosong. Tapi masih ada pencahayaan. Di sudut ruangan, tergelatak sebingkai foto. Patah-patah ia mengambil foto yang lumayan kusam. Lantas menghela napas kesal melihat wajah gadis yang tersenyum di dalam citra lusuh itu. Ia terduduk, tanpa sadar air matanya menggenang, semakin lama semakin memenuhi sudut mata. Hingga menetes seenaknya saja.
            “Berani sekali dirimu, gadis malang!” lirihnya membentak. “Beraninya dirimu menitipkan aku di sini. Di tempat sehampa ini. Apa maumu? Hah?” Jemarinya meremas sebingkai foto itu. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir tak tahu diri. Napasnya tersengal. Keringatnya mengucur tanpa henti. Ia terjatuh-duduk-berdiri dan terjatuh lagi. Ah! Kenapa aku selebay ini? Bukankah aku seharusnya bersikap sederhana saja. Hey! Gadis jahat itu hanya menitipkanku di sini. Tidak ada yang salah. Tapi… kenapa? Kata-kata itu berseliweran di dalam hatinya. Hingga ia memilih duduk kembali dan perlahan memejamkan mata.
 ***
            Aku membuka sepucuk surat dari teman lama. Intinya, dia bilang dia ingin berlibur bersamaku. Entah ke mana. Aku tak habis pikir, berlibur dalam keadaan seperti ini sungguh tak akan menyenangkan. Karena sejatinya aku sedang terbelenggu. Hatiku, maksudnya. Oh iya, panggil aku Nona. Bukan, bukan panggilan karena aku anak gadis paling tua. Memang namaku adalah Nona.
            Tik…tik…tik… Tetesan hujan bersenandung ria di luar kamar. Aku hanya menatap, tak bisa berbuat apa-apa. Rangkaian peristiwa melewati pikiranku. Satu-satunya hal yang masih saja melekat di otakku adalah tentang rasa  bersalah. Rasa bersalah yang tidak teramat dalam, sih. Aku hanya salah dalam meletakkan sesuatu.
            “Ah, maafkan aku. Ternyata aku salah memilih kampung halamanmu. Aku juga salah telah memilih tuan rumah. Seharusnya kamu bahagia di sana. Tapi nyatanya, kamu asik menangis. Maafkan aku.” Ucapku lirih di sela-sela musik Give Me A Reason melantun pelan. Rasa menyesal pun mulai menyelimuti. Aku segera harus bertemu dengannya. Besok atau tak akan pernah lagi!
***
            Ia terbangun, seluruh tubuhnya mendadak ngilu. Sedikit-sedikit ia mengeluh dan mendesah kesakitan. Tok tok tok. Pintu yang dilumeri cat hijau tua berbunyi. Seperti ada yang mengetuk? Siapa yah? Ia pun mulai berdiri, berpegangan pada tembok kasar.
            “Krik…” Perlahan tangannya memutar ganggang pintu. Dan …
            “Hello, Manis. Aku ke sini ingin menengokmu.” Gadis itu tersenyum, iya. Gadis itu adalah aku, Nona.
            “Untuk apa kau ke sini? Hah? Mau apa?” Ia hampir saja menutup pintu dengan kasar. Tapi beruntung aku berhasil menahannya.
            “Aku hanya ingin meminta maaf. Dan… Menjemputmu kembali.” Ia termangu. Lantas kembali membuka pintu, srek srek srek.
            Aku memasuki ruangan itu. Apa aku  tak salah lihat. Ya Tuhan, hampa sekali. Bahkan tak ada satu pun barang yang menumpang di sini. Tiba-tiba mataku menangkap sehelai foto yang sudah kusut. Itu jelas fotoku.     
            “Jadi apa?” Suaranya yang datar mengagetkanku seketika. Aku menoleh, membalikkan punggung, menatapnya. Adalah beberapa detik aku hanya terdiam. Kuperhatikan guratan wajahnya yang sangat lelah. Pipinya cekung. Tubuhnya kurus. Ditempeli warna-warna kebiruan. Tanpa sadar, aku menangis. Namun aku segera menyekanya.
            “Kau… benar-benar tak tampak baik.”
            “Baru tahu? Sudah jangan basa-basi. Cepat kemukakan alasanmu. Aku capek.” Dia ber-hah malas.          
            “Maafkan aku, seharusnya aku tak seberani ini. Seharusnya saat itu bukan waktu yang tepat untukku dan untukmu. Aku benar-benar menyesal. Melihatmu yang tak tergubris di sini, serasa aku ingin kembali membawamu pulang. Kau mau ikut bersamaku? Aku akan menghilangkan semuanya. Segala rasa yang tumbuh pada lelaki itu. Segalanya. Untukmu. ” Air mataku tumpah, lagi. Bahkan lebih deras. Ia hanya menatapku kosong. Bahkan tak menjawab.
            “Jawab aku, Rin…” ucapanku terpotong.
            “Oke, oke. Bawa aku bersamamu kembali. Karena tidakkah kamu merasakan aku sedang sakit-sakitan di sini. Dia, iya dia. Tuan rumah yang bahkan tak pernah mengerti aku. Seolah-olah mengabaikan setiap bisikan doa yang istimewa. Bawa aku. Maka aku akan memudar.”  Ia tersenyum. Tubuhnya mulai membaik. Ada cahaya yang mengitari. Aku mengangguk. Menggenggam tangannya. Kita pun berjalan pelan keluar, menyusuri arah cahaya matahari.
            Ternyata benar, aku salah. Maafkan aku, Rindu. Maafkan aku telah salah menaruhmu. Aku memilih hatinya, iya hati lelaki, si tuan rumah itu sebagai kampung halamanmu. Malah seenaknya saja menitipkanmu ke dalam hatinya. Padahal dia tak memberikan aku kunci untuk membuka gembok rumahnya. Padahal, dia ternyata tidak punya rindu yang sama untuk menemanimu. Rindu, aku menyesal. Mulai sekarang, kamu di sini saja. Atau lebih baik kamu sirna sekalian. Bersama cahaya matahari yang menyilaukan. Agar kamu bahagia. Da dah!
            Ucapku mengantarnya pergi. Dia, Rindu, akan baik-baik saja. Dia tak perlu repot-repot mengurus hatiku. Di sini, aku tersenyum. Sementara air mata kesedihan dan kesesakan hati menetes di dalam jiwa. Rindu pergi? Berarti aku harus melupakan sang lelaki. Iya. Baiklah. Itu tak akan mudah.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography