Oleh Ridha Hayatul Husna
Ketika
adzan Maghrib berkumandang, ketika itulah yang tertinggal hanya kerinduan. Tungkai-tungkai
kaki melangkah pelan memasuki rumah. Anak-anak ayam bergegas pulang ke kandang,
menghangatkan tubuh pada sang induk. Tirai-tirai jendela digeser, srek! Pintu-pintu mulai menutup.
Perisitiwa ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa terang telah usai. Giliran
malam yang akan menemani. Namun, tidak dengan dirinya. Ia memilih berdiri
mematung-diri. Menatap langit sore yang lembayung. Matanya beringas melihat
burung-burung berterbangan cepat sekali. Menganggu.
Ia mengeluh, tampaknya tak senang dengan burung-burung “menyebalkan” itu.
Perlahan, ia melangkah memasuki
ruangan. Kosong. Tapi masih ada pencahayaan. Di sudut ruangan, tergelatak
sebingkai foto. Patah-patah ia mengambil foto yang lumayan kusam. Lantas
menghela napas kesal melihat wajah gadis yang tersenyum di dalam citra lusuh
itu. Ia terduduk, tanpa sadar air matanya menggenang, semakin lama semakin
memenuhi sudut mata. Hingga menetes seenaknya saja.
“Berani sekali dirimu, gadis
malang!” lirihnya membentak. “Beraninya dirimu menitipkan aku di sini. Di
tempat sehampa ini. Apa maumu? Hah?” Jemarinya meremas sebingkai foto itu. Ia
berdiri, berjalan mondar-mandir tak tahu diri. Napasnya tersengal. Keringatnya
mengucur tanpa henti. Ia terjatuh-duduk-berdiri dan terjatuh lagi. Ah! Kenapa aku selebay ini? Bukankah aku
seharusnya bersikap sederhana saja. Hey! Gadis jahat itu hanya menitipkanku di
sini. Tidak ada yang salah. Tapi… kenapa? Kata-kata itu berseliweran di
dalam hatinya. Hingga ia memilih duduk kembali dan perlahan memejamkan mata.
***
Aku membuka sepucuk surat dari teman
lama. Intinya, dia bilang dia ingin berlibur bersamaku. Entah ke mana. Aku tak
habis pikir, berlibur dalam keadaan seperti ini sungguh tak akan menyenangkan.
Karena sejatinya aku sedang terbelenggu. Hatiku, maksudnya. Oh iya, panggil aku
Nona. Bukan, bukan panggilan karena aku anak gadis paling tua. Memang namaku
adalah Nona.
Tik…tik…tik… Tetesan hujan
bersenandung ria di luar kamar. Aku hanya menatap, tak bisa berbuat apa-apa. Rangkaian
peristiwa melewati pikiranku. Satu-satunya hal yang masih saja melekat di
otakku adalah tentang rasa bersalah.
Rasa bersalah yang tidak teramat dalam, sih. Aku hanya salah dalam meletakkan
sesuatu.
“Ah, maafkan aku. Ternyata aku salah
memilih kampung halamanmu. Aku juga salah telah memilih tuan rumah. Seharusnya kamu
bahagia di sana. Tapi nyatanya, kamu asik menangis. Maafkan aku.” Ucapku lirih
di sela-sela musik Give Me A Reason
melantun pelan. Rasa menyesal pun
mulai menyelimuti. Aku segera harus bertemu dengannya. Besok atau tak akan
pernah lagi!
***
Ia terbangun, seluruh tubuhnya
mendadak ngilu. Sedikit-sedikit ia mengeluh dan mendesah kesakitan. Tok tok tok. Pintu yang dilumeri cat
hijau tua berbunyi. Seperti ada yang
mengetuk? Siapa yah? Ia pun mulai berdiri, berpegangan pada tembok kasar.
“Krik…” Perlahan tangannya
memutar ganggang pintu. Dan …
“Hello, Manis. Aku ke sini ingin
menengokmu.” Gadis itu tersenyum, iya. Gadis itu adalah aku, Nona.
“Untuk apa kau ke sini? Hah? Mau
apa?” Ia hampir saja menutup pintu dengan kasar. Tapi beruntung aku berhasil menahannya.
“Aku hanya ingin meminta maaf. Dan…
Menjemputmu kembali.” Ia termangu. Lantas kembali membuka pintu, srek srek srek.
Aku memasuki ruangan itu. Apa
aku tak salah lihat. Ya Tuhan, hampa
sekali. Bahkan tak ada satu pun
barang yang menumpang di sini. Tiba-tiba mataku menangkap sehelai foto yang
sudah kusut. Itu jelas fotoku.
“Jadi apa?” Suaranya yang datar
mengagetkanku seketika. Aku menoleh, membalikkan punggung, menatapnya. Adalah
beberapa detik aku hanya terdiam. Kuperhatikan guratan wajahnya yang sangat
lelah. Pipinya cekung. Tubuhnya kurus. Ditempeli warna-warna kebiruan. Tanpa
sadar, aku menangis. Namun aku segera menyekanya.
“Kau… benar-benar tak tampak baik.”
“Baru tahu? Sudah jangan basa-basi.
Cepat kemukakan alasanmu. Aku capek.” Dia ber-hah malas.
“Maafkan aku, seharusnya aku tak
seberani ini. Seharusnya saat itu bukan waktu yang tepat untukku dan untukmu. Aku
benar-benar menyesal. Melihatmu yang tak tergubris di sini, serasa aku ingin
kembali membawamu pulang. Kau mau ikut bersamaku? Aku akan menghilangkan
semuanya. Segala rasa yang tumbuh pada lelaki itu. Segalanya. Untukmu. ” Air
mataku tumpah, lagi. Bahkan lebih deras. Ia hanya menatapku kosong. Bahkan tak
menjawab.
“Jawab aku, Rin…” ucapanku
terpotong.
“Oke, oke. Bawa aku bersamamu
kembali. Karena tidakkah kamu merasakan aku sedang sakit-sakitan di sini. Dia,
iya dia. Tuan rumah
yang bahkan tak pernah mengerti aku. Seolah-olah mengabaikan setiap bisikan doa
yang istimewa. Bawa aku. Maka aku akan memudar.” Ia tersenyum. Tubuhnya mulai membaik. Ada
cahaya yang mengitari. Aku mengangguk. Menggenggam tangannya. Kita pun berjalan
pelan keluar, menyusuri arah cahaya matahari.
Ternyata
benar, aku salah. Maafkan aku, Rindu. Maafkan aku telah salah menaruhmu. Aku
memilih hatinya, iya hati lelaki, si tuan
rumah itu sebagai
kampung halamanmu. Malah seenaknya saja menitipkanmu ke dalam hatinya. Padahal
dia tak memberikan aku kunci untuk membuka gembok rumahnya. Padahal, dia
ternyata tidak punya rindu yang sama untuk menemanimu. Rindu, aku menyesal. Mulai
sekarang, kamu di sini saja.
Atau lebih baik kamu sirna sekalian. Bersama cahaya matahari yang menyilaukan.
Agar kamu bahagia. Da dah!
Ucapku mengantarnya pergi. Dia,
Rindu, akan baik-baik saja. Dia tak perlu repot-repot mengurus hatiku. Di sini,
aku tersenyum. Sementara air mata kesedihan dan kesesakan hati menetes di dalam
jiwa. Rindu pergi? Berarti aku harus melupakan sang lelaki. Iya. Baiklah. Itu
tak akan mudah.

0 komentar:
Posting Komentar