Jumat, 02 Januari 2015

Mega-Mega Pelangi

Oleh Pelangi

Bagaimana rasanya hati yang terkhianati? Barangkali malam ini, Birulah yang paling tahu jawabannya. Mungkin sudah selaksa airmata yang dicurahkan gadis kelas dua SMA itu, hanya karena satu alasan : pengkhianatan.
            Malam ini Biru kembali mengulang malam panjang yang sama namun berbeda. Malam yang sama-sama membuatnya tak mampu tidur sepicing pun, namun berbeda ceritanya. Bila malam yang dulu ia tak tidur karena terlalu senang, malam ini ia tak tidur lantaran teramat sedihnya.
            Samar-samar di antara tangisan, Biru ingat bahwa di malam yang dulu hatinya benar-benar berbunga sebab seseorang mengungkapkan kata cinta padanya. Tetapi malam ini, seseorang itu malah membuat hatinya penuh luka. Berdarah-darah. Seseorang itu, Hijau, teman sekelas yang telah setahun ini berbagi perasaan bernama cinta dengannya.
            Biru meraih laptopnya, membuka folder-folder foto lama, kenangan bersama Hijau dalam banyak kesempatan. Satu persatu dipandangnya foto-foto itu. Kesedihan makin menggelayutinya. Di sela-sela airmata yang terus saja jatuh, ia tak punya tempat berteduh.
            Biru masih saja bertahan mengilasbaliki kenangan, sampai matanya tertuju pada sebuah foto. Fotonya bersama Hijau, namun ada orang lain di sana. Seorang gadis berengsek yang merusak semua kebahagiaan, pikirnya. Detik itu ingin rasanya Biru meloncat di hadapan gadis itu, mencakar mukanya habis-habisan. Namun apalah daya, itu hanyalah sebuah foto. Dan Biru pun masih cukup sadar untuk tak membanting laptopnya karena kesal melihat wajah gadis itu. Namun segera matanya tertuju pada ponselnya. Dibukanya akun media sosialnya, ia ingin membuat sebuah status dan harapannya ia ingin gadis –berengsek- itu membacanya.
           
Barangkali aku tak luput dari kesalahan, tapi aku tidak akan pernah merendahkan diri sendiri dengan merusak hubungan orang lain!
            Kurang ajar! Nila serasa ingin membanting ponselnya ketika membaca kalimat tersebut. Itu status yang dibuat oleh seseorang, seorang teman sekelas, gadis kurang ajar yang bisanya hanya menyalahkan orang lain. Kapan gadis itu bisa berhenti memandang sesuatu hanya dari sisinya saja? Nila bertanya-tanya sendiri di antara kecamuk kemarahan yang tengah menerkam hatinya.
            Merendahkan diri sendiri katanya? Hah! Berani benar dia berkata begitu! Nila meremas-remas seprainya lantaran teramat kesal. Padahal Hijaulah yang datang padanya pertama kali. Bahkan ia pun sudah berusaha menjauh, mengingatkan Hijau bahwa ia punya seseorang kekasih yang mesti dihargai. Tak bisakah gadis kurang ajar itu melihat usahanya? Melihat bahwa ia telah berusaha mati-matian untuk menjaga perasaan si gadis? Astaga! Bila hubungan Hijau dan gadis itu rusak, maka itu bukan salahnya! Sebab semua orang tahu persis bahwa hubungan mereka sudah rusak sejak lama. Hubungan itu sudah benar-benar rusak sejak gadis itu menunjukkan sifat aslinya: egois tak terkira.
Gadis itu benar-benar pencemburu. Padahal sangat wajar bila Nila dekat dengan Hijau, karena mereka teman sekelas. Namun gadis itu seakan buta mata hatinya. Kecemburuan membuatnya dengan gampang menuduh dan berkata kasar. Nila menggeleng kuat-kuat. Itu bukan salahku! Tegasnya dalam hati. Nila menarik napas berulang-ulang mengatur kemarahan yang menyesakkan dadanya.
            Nila meraih ponsel yang tadi dilemparnya dengan kasar di atas kasur. Ia memilih menu pesan, dengan cepat menulis sms untuk seseorang: Hijau.
            Kamu lihat status media sosial pacarmu itu? Dia benar-benar kurang ajar dengan kata-kata seperti itu. Sudahlah. Aku bukan hendak mengeluhkan itu, namun aku mau meminta. Tolong tenangkan pacarmu itu dan jelaskan bahwa kita dekat hanya sebagai teman biasa. Dan juga setelah ini, tolong jauhi aku!
Terkirim.Tak lama ponselnya berdering, balasan pesan dari Hijau. Nila sedikit kaget, ternyata di malam selarut ini bukan hanya dia dan gadis itu yang tak bisa tidur, tapi Hijau juga. Nila tersenyum sinis, gadis itu benar-benar membuat masalah ini jadi rumit. Segera dibukanya pesan itu. Nila tertegun, tiba-tiba dadanya menjadi sesak.
Aku bisa saja menjelaskan padanya, Nila. Tapi percuma, sebab hubungan kami telah selesai. Dan tolong, jangan minta aku menjauhimu, Nila, karena aku menyayangimu. Aku sungguh jatuh cinta padamu, sudah sejak lama, bahkan sejak aku masih bersama dia.

            Waktu menyembuhkan luka. Hari ini Biru telah bisa dengan hati yang lapang menapaki ruang kelasnya. Ruang kelas yang di sana ia selalu melihat kedekatan Hijau dan gadis itu. Apakah ia cemburu? Awalnya sangat dan hari ini pun masih saja begitu. Namun, Biru beruntung memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangatinya.
Biru berusaha menerima dengan lapang. Mati-matian ia berusaha membunuh api kemarahan yang sempat menguasainya, sebab seorang teman menasehatinya bahwa api itu akan membakarnya bila tak dipadamkan. Awalnya sulit. Sangat sulit. Apalagi dengan kondisi setiap hari ia harus masuk ke kelas yang sama, melihat pemandangan yang sama: interaksi Hijau dan gadis itu yang kian hari kian dekat saja. Namun, Tuhan sungguh Maha Penyayang pada orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha. Biru berusaha keras menerima, maka Tuhan berikan kelapangan hati itu. Tepat di hari ini memanglah masih tersisa sedikit rasa sakit di hatinya, namun penerimaan itu membuatnya lebih kuat. Dan tentang hatinya yang masih agak berat untuk memaafkan, Biru selalu berdoa agar Tuhan membantu hatinya untuk bisa memberi maaf. Maka dengan semua hal itu, makin hari hatinya makin lapang dan perlahan ia kembali bisa tersenyum dan berbahagia. Bahkan lebih bahagia dari sebelumnya.
Hari ini Biru bersama teman-temannya melangkah menuju kantin. Ketika melangkah keluar pintu, sempat sekilas matanya menangkap sosok gadis itu berjalan mendekati Biru. Dadanya sedikit sesak, namun segera ia bisa menguasai hatinya. Biru tetap tersenyum dan bergurau bersama teman-teman baiknya.
“Hei, lihat! Status Merah belakangan so sweet sekali. Sepertinya ia benar-benar sedang kasmaran,” seorang temannya menyodorkan ponsel yang sedang membuka media sosial. Biru dan temannya yang lain melihat antusias.
Tepat di waktu ini, dalam cinta aku telah jatuh
untuk kemudian terbelenggu, tak bisa lepas lagi
aku pun tak menginginkan lepas
Benar, kalimat status itu begitu manis. Biru tersenyum simpul melihatnya, mengingat bahwa dulu ia pun sering membuat status semacam itu. Namun itu dulu. Biru menarik napas dalam, mencoba melegakan hati yang tiba-tiba agak sesak.
“Romantis sekali ya dia, beruntung sekali gadis yang jadi pacarnya,” teman-teman Biru meneruskan obrolan yang sama.
“Eh, kalian tahu, kan, dia memang baru jadian dengan anak IPS2. Tahu tidak? Pacarnya cantik. Aduh aku lupa siapa namanya, tapi kalian pasti kenal deh!”
“Oh ya?”
Pembicaraan itu masih saja berlanjut sepanjang jalan ke kantin. Biru hanya mendengarkan dengan baik. Ia tahu lelaki itu. Merah, siswa kelas IPS 1 yang tampan, pintar dan berprestasi. Ia kenal cukup baik dengan Merah karena pernah meraka satu tim dalam sebuah kegiatan sekolah.
Kantin sudah ramai ketika mereka sampai. Biru dan teman-temannya mengambil tempat agak di sudut. Mereka memesan bakso yang kata siswa-siswa sekolah itu adalah bakso terlezat sedunia. Baru saja akan menyantap bakso, dua orang anak lelaki datang dan meminta izin duduk di dekat mereka karena kursi lain sudah penuh. Biru tak terlalu memperhatikan, tetap fokus pada baksonya.
“Hei, itu kan Merah,” teman yang duduk di sebelahnya berbisik pada Biru. Biru memalingkan wajah ke arah dua anak lelaki itu. Mereka tersenyum membalas tatapan Biru.
“Apa kabar, Merah?” Biru menyapa salah satunya.
“Baik sekali, Biru. Bagaimana denganmu?” Merah balas bertanya dengan senyum lebar.
“Hm, aku baik.” Biru menjawab. “Ya, aku tahu kamu sedang bahagia sekali, Merah. Status-statusmu menggambarkan hal itu dengan baik, kok,” Biru tertawa kecil. Merah segera agak memerah mukanya, ia juga ikut tertawa kecil.
“Ya, kira-kira begitulah,” ujarnya.
“Siapa namanya, Merah? Bolehkah temanmu ini tahu?” Biru semakin tertarik menjahili Merah, membuat mukanya semakin merah.
“Ah, itu...” Merah agak gugup sejenak, namun akhirnya ia menyebutkan sebuah nama. Biru tersenyum simpul.
“Kudoakan hubungan kalian awet,” katanya.
“Terima kasih, Biru,” ucap Merah. Mereka semua pun kembali fokus pada makanan masing-masing.

Nila mengusap matanya yang mulai berair. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Bahwa kau bisa tiba-tiba ingin menangis lantaran pesan yang tak dibalas-balas. Nila membuka pesan terkirim, sudah banyak sekali pesan yang dikirimkan. Namun tak ada satupun yang di balas. Pesan masuknya benar-benar kosong, sedangkan pesan terkirimnya sudah penuh dengan satu nama: Hijau.
Nila terduduk melamunkan apa yang telah terjadi. Tak pernah sedikit pun terniat di hatinya untuk menerima Hijau. Apalagi setelah banyak kejadian menjengkelkan yang ia rasakan karena sikap mantan pacar Hijau. Sampai saat ini pun ia masih belum saling bersapa dengan gadis itu, meskipun gadis itu belakangan sudah terlihat biasa saja, sering tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Entahlah, apakah gadis itu sengaja berbuat demikian untuk menutupi kesedihannya, Nila pun tak tahu.
Namun yang jelas terjadi adalah bahwa ia, Nila, telah jatuh cinta pada Hijau. Jatuh cinta yang tak pernah diduganya, sebab jelas ketika itu ia berniat menjauhi Hijau untuk meredam kesalahpahaman. Nila mencoba mencari alasan mengapa ia jatuh cinta. Tapi tidak bisa ditemukannya. Ia hanya jatuh cinta, sesederhana itu saja. Ia jatuh dan parahnya sekarang terasa sakitnya.

Merah tersenyum kecil mengingat taman-temannya berkomentar mengenai status-status media sosialnya yang belakangan romantis sekali. Jatuh cinta memang menumbuhsuburkan inspirasi.
Merah meraih ponselnya. Sebuah wajah manis terpampang di layar utama, Jingga. Senyumnya menjadi lebih mengembang. Hampir dua tahun di SMA, ia memendam perasaan suka pada gadis itu. Dan sekarang, impiannya menjadi kenyataan, Jingga membalas perasaannya. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, namun seluruh dunia pun tahu, bahwa Jingga adalah salah satu impiannya. Maka wajar saja, bila ia menjadi bahagia tak terperi, menemui mimpi yang tak lagi hanya sekadar mimpi.
Merah merebahkan diri di atas tempat tidur. Cinta, benar-benar membuat seseorang berkelakuan di luar normalnya. Baru tadi siang ia bertemu Jingga di sekolah, namun sekarang ia sudah rindu lagi. Merah memandang langit-langit kamarnya yang putih bersih. Entah bagaimana ada wajah Jingga di sana. Merah menghembuskan napas keras. Astaga! Ia sudah mulai gila. Ditutupnya matanya, mencoba tidur dalam gejolak rindu yang mengganggu. Akan tetapi tak bisa, ia tak mampu untuk lelap.
Tiba-tiba Merah bangkit dari tidur, meraih ponselnya. Dengan lincah jemarinya mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian ia tersenyum puas. Kalimat indah sudah tersusun rapi di layar ponselnya. Jemarinya kembali bergerak, mencari sebuah nama.. Sent. Pesan itu segera melaju melintasi lapis-lapis langit, singgah di satelit yang melayang-layang dalam kehampaan, lalu kembali lagi ke bumi dan hinggap manis di ponsel seseorang. Jingga.

Hijau menarik napas panjang. Puluhan pesan berbaris di kotak masuk ponselnya. Satu nama berderet resah di sana, Nila. Hijau membuka satu pesan.
Apa yang sedang kaulakukan? Kenapa tak membalas pesanku?
Hijau lalu meletakkan ponsel itu di sisinya, urung membuka pesan-pesan yang lain. Sebab ia yakin, isinya akan serupa saja.
Hijau menghembuskan lagi napas berat. Cinta itu apa? Apalah arti cinta bila dengan mudah bisa memudar? Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja. Jahatkan ia? Hijau sendiri bahkan tidak tahu. Ia tidak tahu mengapa ia menyukai Nila, dan ia lebih tidak tahu mengapa perasaan itu pun memudar dengan cepat.
Jemarinya makin mengetuk cepat. Sungguh, ia tak ingin menyakiti Nila. Tidak ingin! Sama seperti dulu pun ia tak ingin menyakiti Biru. Namun, selalu dan selalu saja ia tak bisa menguasai perasaannya sendiri. Ia tak mampu mengendalikan keinginan untuk pergi ketika cinta itu perlahan-lahan memudar. Tidak ada yang salah dengan Nila, pun tidak ada yang salah dengan Biru. Hanya dirinya yang ingin pergi. Hatinyalah yang ingin mencari perhentian lain. Ia jahat? Ya, barangkali ia memang jahat. Harusnya sebagai laki-laki ia mampu menjadi rasional dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal buruk itu. Namun, entah mengapa ia selalu kalah. Ia kalah oleh dirinya sendiri.
Hijau mengepalkan tangannya. Sungguh merasa frustrasi akan dirinya sendiri. Diambilnya ponselnya, sebuah pesan baru masuk.
 Kamu baik-baik saja? Aku rindu padamu...
Hijau tercenung sejenak. Namun, segera jemarinya bergerak. Menyusun barisan huruf agar menemui maknanya. Sent. Ia menarik napas lagi, dalam. Barangkali ia masih belum bisa mengalahkan dirinya, tapi sudahlah, Hijau memilih tidak memikirkannya lagi.

Jingga bersegera meraihponselnya ketika terdengar dering tanda pesan. Merah.
Cinta mengukir namamu di kedalaman jiwaku,
menjadi bagian darinya
Bagaimana aku bisa sejenak melupakanmu,
bila raga ini saja bergerak dengannya?
Jingga menghela napas.Kalimat yang indah. Sungguh. Namun, mengapa untaian kata seindah itu serasa tak benar-benar mampu membuat bibirnya mengulas senyum?
Apa yang salah dengan perasaannya? Apa yang salah dengan kata-kata cinta yang indah itu? Kata-kata cinta yang diharapkan banyak gadis untuk dikirimkan pada mereka. Ia, Jingga, telah sangat beruntung mendapatkan laki-laki yang baik dan penuh kasih sayang seperti Merah. Namun apa yang salah?
Tidak sedikit pun sikap Merah pernah membuatnya sedih. Malahan perhatian yang berlimpah selalu diberikan laki-laki itu. Bahwa Merah beruntung mendapatkannya, itulah yang selalu dikatakan Merah padanya. Bukankah ia sangat beruntung? Dicintai oleh laki-laki yang menjadi idola banyak gadis. Lebih dari itu, ia dicintai dengan sepenuh hati. Merah selalu memperlakukannya dengan baik, seperti ia adalah hal paling berharga di dunia. Kasih sayang laki-laki itu begitu tulus. Gadis mana yang tak akan luluh hatinya bila diperlakukan seperti itu?
Jingga menjambak pelan rambutnya. Apa yang terjadi padanya? Bukankah di awal ia begitu merasa beruntung? Bukankah diawal hatinya telah luluh? Ketulusan kasih sayang Merah membuatnya dengan mudah menerima Merah. Berbulan-bulan hubungan mereka berjalan baik-baik saja. Perhatian Merah bahkan menjadi semakin bertambah. Lalu, mengapa kini ia merasa datar? Tanpa getar. Kata-kata cinta tadi pun bahkan hanya diingatnya samar. Apakah cinta memang semudah itu pudar?
Jingga membenamkan mukanya di bantal. Namun kemudian ia bangkit, meraih ponselnya. Mengetik sesuatu dengan cepat.
Kamu baik-baik saja? Aku rindu padamu. Terkirim.
Tak lama dering tanda pesannya kembali berbunyi.
Aku pun begitu rindu padamu. Sangat, sangat rindu.
Jingga menekuri tulisan di layar ponselnya. Senyumnya mengembang tanpa ia sadari. Satu nama tertulis jelas. Hijau.

Biru mempercepat langkah kakinya. Ia sudah lapar sekali dan hendak menyusul teman-temannya ke kantin. Ia baru saja dari kantor guru, mempersiapkan lomba mata pelajaran yang bulan depan akan dihadapinya.
Biru melangkah dengan ringan dan cepat, sampai tiba-tiba selintas matanya menangkap sesuatu. Di sisi samping kelasnya yang tak terlalu kentara, dua orang tampak sedang berbincang. Hijau dan Nila.
Langkah Biru terhenti sejenak, tapi kemudian segera dilanjutkannya. Biarkanlah! Biru menguatkan hatinya sendiri yang masih saja terasa sedikit sakit ketika melihat dua orang itu bersama. Langkah Biru menjadi berat. Setelah agak jauh, ia berhenti. Ditariknya napas dalam. Hati itu masih saja terasa agak sakit. Namun, jika diingat lagi, sebenarnya rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Biru terdiam lama, ingatan-ingatan berseliweran di kepalannya. Hanya saja kali ini, Biru membiarkannya saja. Membiarkan dirinya mengingat kenangan. Ia biarkan hatinya mengingat rasa bahagia yang dulu dirasakan, pula mengingat rasa sakit yang kini dirasakannya. Tak lagi ia berusaha menolak semua perasaan dan ingatan itu. Ia berusaha untuk menerima. Dan rasa sakit itu semakin jauh berkurang. Biru melanjutkan langkahnya ke kantin.

Airmata itu akan jatuh! Jangan! Jangan sampai ia menangis sekarang. Semampunya dipertahankan raut wajah agar tetap tenang, setenang saat tadi ia bertanya. Meski percuma, mata itu sudah nampak berkaca.
“Jadi, benar kamu menyukai Jingga?” itu pertanyaan yang dilontarkannya sesaat tadi.
Sosok di depannya diam sesaat, untuk kemudian menjawab.
“Iya, maafkan aku,”
Nila memainkan jemarinya, berharap itu bisa menetralisasi rasa sesak yang tiba-tiba menyerangnya. Ia memandang wajah Hijau yang tengah berpaling ke arah lain. Entah kenapa raut wajah yang tenang itu makin membuat dadanya sesak. Mengapa laki-laki di hadapannya ini bisa menjawab dengan nada sedatar itu? Tak adakah rasa bersalah sedikit pun?
“Baiklah. Kalau memang begitu. Antara kamu dan aku, kita akhiri saja.”
Nila segera berlari menjauh, menuju tempat yang lengang. Airmata itu sudah jatuh. Tidak terdengar langkah kaki, Hijau tidak mengejarnya. Nila menaruh telapak tangan di dada. Sakit.

Apa-apaan ini? Merah mebaca ulang pesan dari Jingga yang tertera di ponselnya.
Merah, sebelumnya aku ingin meminta maaf. Namun, hubungan kita, aku tidak bisa lagi melanjutkannya. Sekali lagi, maafkan aku.
Merah mengetik cepat di antara keterkejutannya.
Ada apa, Jingga? Bukankah selama kita tak punya masalah yang berarti? Jika memang ada sesuatu yang mengganjal hatimu, mari kita bicarakan secara langsung. Jangan lewat sms seperti ini.
Satu menit. Dua menit. Lima menit, tak ada balasan.
Jingga?
Masih tak ada balasan.
Jingga? Tolong balas pesanku, Jingga. Kumohon jangan membuatku bingung seperti ini.
Akhirnya satu pesan masuk.
Tak ada yang perlu dibicarakan. Tak ada yang salah denganmu. Hanya saja aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Maafkan aku.
Merah segera mengetik cepat sebuah pesan balasan.
Jingga. Aku ingin kita bicara langsung. Kumohon.
Merah menatap layar ponselnya lama. Percuma. Tak ada lagi balasan.

Berminggu-minggu berlalu. Hijau duduk sendirian di beranda rumahnya. Keheningan membawanya menekuri semua yang telah dilaluinya. Hijau menerawang jauh. Sungguh ia telah jahat pada Biru maupun Nila. Jari-jarinya menyisir rambutnya kasar. Ia menghembuskan napas keras. Oh Tuhan, apa yang telah dilakukannya?
Hari itu di depan Nila, dengan raut tenang ia mengatakan bahwa ia menyukai Jingga. Bukannya ia tak merasa bersalah. Namun egonya sebagai seorang laki-laki memaksanya untuk bersikap seperti itu. Bukannya ia tidak merasa bersalah telah membuat Nila dan Biru menangis. Karena bila ia telusuri nuraninya, sungguh ia teramat menyesal akan hal itu.
Sekarang ia menjalani hari, seolah semua baik-baik saja. Walaupun Biru semakin hari tampak semakin ceria, dan perlahan Nila pun kembali terlihat biasa, namun hatinya semakin merasa bersalah. Setiap hari ia merasakan keresahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seolah-olah ada yang salah di hatinya. Seperti hatinya menuntut untuk meluruskan kekeliruan yang dilakukannya. Tapi apa? Bukankah ia sudah meminta maaf pada Biru dan Nila? Mereka menerima maafnya dengan wajah tersenyum dan sekarang mereka berinteraksi seperti tak pernah terjadi apa-apa. Lalu mengapa hatinya masih resah? Hijau sendiri tak tahu, apalagi yang salah.
Hijau meraih ponselnya. Tak sengaja jarinya memencet satu tombol, kotak masuk terbuka. Satu nama berderet rapi di sana. Hijau tercenung. Mungkinkah ini yang salah? Hijau mengacak-acak rambutnya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya keras. Dipejamkannya matanya lama. Mencoba mencari jawaban yang dilontarkan hati nuraninya. Jawaban yang selama ini tak ia dengarkan dengan baik.
Hijau membuka matanya. Ia menemukan jawabannya. Segera diketiknya sebuah pesan panjang. Satu nama terpilih. Jingga. Sent.
Jingga, aku tak tahu bagaimana memulai ini. Tapi kau sendiri tahu, bahwa hubungan kita tak berawal dengan sesuatu yang baik. Berminggu-minggu aku mencoba mencari jawaban dari hati yang selalu resah. Mengapa hatiku selalu merasa tak nyaman, padahal semua berjalan baik-baik saja? Aku sudah meminta maaf pada Biru maupun Nila, tapi tetap saja kegelisahan itu tidak hilang.
Hari ini, aku tahu jawabannya. Mengapa hatiku tetap merasa bersalah dan gelisah. Karena hubungan ini masih tetap menyakiti orang-orang di sekitar kita. Walaupun mereka menerima maaf dengan senyuman, namun hatinya tetap terluka. Dan selama mereka masih terluka, selama itu pula hatiku merasa bersalah. Karena itu, Jingga, kumohon kamu mengerti, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Bukan karena aku tak lagi menyukaimu, tapi karena aku tak ingin membuat orang-orang di sekitarku tersakiti. Semoga kamu paham alasanku. Dan semoga hal ini tidak menambah daftar orang-orang yang tersakiti karena aku.
Sementara di satu tempat lain. Jingga tengah duduk di tepi tempat tidurnya. Kesendirian membawanya menekuri apa yang telah terjadi. Ia teringat satu sosok yang tetap tersenyum tulus kepadanya meskipun ia telah menyakitinya. Berminggu-minggu berlalu, ia berpikir Merah akan membencinya dan tak mau lagi menyapanya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Keputusan sepihak yang dibuat Jingga, tak membuat Merah berubah sikap padanya. Merah memang berhenti menelepon dan mengiriminya pesan. Namun Merah masih laki-laki yang sama yang dengan senyum lebar menyapanya ketika berpapasan, laki-laki yang masih dengan senang hati membantunya ketika ia kesulitan.
Jingga menarik napas dalam, lalu melepaskannya. Di saat situasi sudah kembali normal, hubungan pertemanan dengan Merah tetap baik-baik saja, mengapa hatinya terasa tidak damai? Ia merasakan kegelisahan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Ada apa ini? Apalagi yang salah? Jingga menutup matanya lama, mencoba mencari jawaban dari sumber kegelisahan itu sendiri: hatinya. Satu tetes airmata jatuh. Jingga membuka mata, ia sudah tahu jawabannya.
Segera diraihnya ponselnya. Diketiknya sebuah pesan panjang. Satu nama terpilih. Hijau. Terkirim.
Aku tidak tahu bagaimana harus memulai ini, Hijau. Tapi, kamu tahu persis bagaimana kita memulai hubungan ini. Waktu berlalu, hubungan kita berjalan lancar. Hubungan dengan seseorang itu juga baik-baik saja. Aku telah meminta maaf dan kami berteman seperti biasa. Namun, entah mengapa hatiku merasa tidak damai. Seolah ada hal yang keliru dan itu membuatku gelisah sepanjang waktu.
Lama sekali, aku mencoba mencari tahu, apa yang salah. Dan hari ini aku menemukan jawabannya. Karena aku telah menyakiti seseorang. Meskipun ia telah dengan tulus memaafkanku, namun aku sadar bahwa hubungan kita ini masih tetap membuat hatinya tersakiti. Dan selama ia tetap tersakiti, selama itu pula rasa bersalah membuat hatiku tidak damai. Oleh karena itu, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku berharap kamu mengerti keputusanku. Semoga kamu tidak tersakiti dengan keputusanku ini. Aku tidak ingin menambah panjang daftar orang yang tersakiti karena aku. Hanya saja, kurasa tak baik juga bila hanya lewat sms kusampaikan pesan ini. Besok aku ingin kita bicara secara langsung.
Kedua pesan itu melaju dalam lintasan yang tidak kasat mata. Menuju satelit yang kemudian mengirimkannya ke nomor yang dituju. Dan kedua pesan itu sampai di tempat tujuannya dalam waktu yang bersamaan.

Tahun berganti tahun dan segala peristiwa segera menjadi kenangan. Hari ini Nila duduk di sebuah tempat makan bersama teman baiknya, Biru.
“Bila diingat lagi apa yang terjadi ketika SMA, aku benar-benar tidak menyangka kita bisa duduk berdua mengobrol seperti ini. Makan bersama nyaris setiap hari,” Nila mengaduk-aduk jus jeruknya. Biru tertawa kecil.
“Kamu benar, Nila,” Biru menghentikan suapan baksonya.
“Tapi, sampai detik ini, aku salut padamu, Biru. Bagaimana bisa kamu bisa bangkit begitu cepat, menerima dengan begitu cepat, padahal aku yakin saat itu kamu begitu terluka. Kamu bisa dengan segera menjadi ceria dan tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa, sedangkan hatiku, bahkan sampai detik ini...” Nila menaruh tangan di dadanya. Ya, sampai detik ini, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, hatinya tetap saja merasa sedikit sakit ketika mengingat Hijau.
Biru tersenyum.”Sejujurnya, waktu itu, aku sangat, sangat membencimu, Nila,” Nila mendongakkan kepala demi mendengar ucapan Biru. “Iya, setiap kali melihatmu bersama Hijau, hatiku tanpa sadar berharap agar sesuatu yang buruk menimpa kalian, agar aku tak perlu lagi melihat kalian selamanya,”
Nila terbelalak. “Aku tak pernah tahu hal itu sebelumnya.”
“Yah, begitulah saking aku dulu membenci kalian berdua. Hatiku rasanya sakit sekali. Aku merasa tak mampu untuk membuang rasa benci itu sedikitpun. Maka yang kulakukan adalah berdoa kepada Tuhan agar ia bersedia membantu membuang kebencian itu.” Biru menyesap air putihnya. “Tuhan itu pemilik segala perasaan, jadi aku yakin hanya Dia pula yang dapat menghilangkan perasaan-perasaan itu. Kekuatanku terlalu lemah, aku tak mampu lagi menanggulangi perasaan itu. Maka yang kulakukan adalah meminta bantuan-Nya. Dan kamu bisa lihat hasilnya, Nila. Perasaan itu benar-benar menguap ketika kita berdua berhadapan, saling meminta maaf dan berpelukan. Semuanya kebencian itu benar-benar lenyap,” Biru tersenyum mengakhiri kalimatnya.
Nila menatap Biru dengan mata berkaca. Mungkin itulah yang seharusnya dilakukannya sejak dulu, meminta bantuan Tuhan untuk menanggulangi perasaan yang tidak lagi mampu ditahannya.
“Selain itu, aku kemudian sadar, bahwa semua yang terjadi adalah cara Tuhan membawaku kembali pada-Nya. Aku telah menghabiskan waktuku sia-sia menanam dan memupuk perasaan cinta yang semu dan hanya membawa kesakitan. Padahal ada perasaan cinta yang paling damai, yang sedikitpun tidak akan membuatmu tersakiti yaitu rasa cinta pada-Nya. Kenapa? Karena rasa cinta-Nya pada kita teramat besar dan tak akan pernah berkurang sedikit pun,”
Nila mengusap airmatanya yang jatuh. Benar.Ada cinta yang lebih berharga untuk dijaga. Cinta yang tak akan berbuah kebencian. Seharusnya cinta itulah yang dipupuk sejak dahulu. Airmatanya makin menderas. Biru memegang tangannya erat.
“Serahkan rasa sakit itu pada-Nya, Nila. Biar Ia yang membantu meghilangkannya. Selain itu, tak pernah ada kata terlambat untuk mencintai-Nya,”
Air mata Nila makin menderas. Namun kali ini, disertai senyum kelegaan. Rasa sakit itu tiba-tiba berkurang banyak.

Sementara itu, di sisi bumi yang berbeda-beda, tiga warna yang lain juga menemukan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan yang mungkin tak pernah terlontar.
Hari itu mereka semua paham bahwa menolak perasaan yang hadir hanya kan membuat hati terasa sakit. Namun bukan berarti perasaan itu harus dituruti. Ada satu Dzat, Pemilik Segala Perasaan yang bisa menjadi tempat perasaan itu dititipkan. Ada satu Dzat yang akan mampu mengembalikan segala perasaan itu ke jalur yang seharusnya, jalur yang tidak akan berakhir pada rasa sakit dan luka.
Hari itu mereka semua paham, bahwa memupuk dan menumbuhkan rasa cinta berlebihan untuk seorang manusia tidak membawa pada kebahagiaan. Manusia tidak kekal. Maka perasaan cinta pada seorang manusia tidak pula akan abadi. Perasaan itu akan dengan mudahnya hilang, lenyap dan mati. Dan saat itu terjadi, yang tertinggal hanya rasa lelah dan kesal karena telah bersusah payah memupuk dan menumbuhkannya. Rasa lelah dan kesal yang pada akhirnya berubah menjadi benci dan rasa sakit.
Hari itu mereka sadar bahwa satu-satunya cinta yang tidak akan pernah membawa rasa sakit adalah cinta pada Sang Pemilik Cinta. Dan cinta yang didasari pada ingatan pada-Nya, itulah cinta yang akan membawa kebahagiaan. Sebab sungguh, tak ada cinta, tanpa mengingat-Nya.

1 komentar:

Unknown says:
at: 8 Maret 2015 pukul 08.23 mengatakan...

kisah ini rupanya

Posting Komentar

 

© Lapak Kisah, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography