Oleh Pelangi
Bagaimana rasanya hati yang
terkhianati? Barangkali malam ini, Birulah yang paling tahu jawabannya. Mungkin
sudah selaksa airmata yang dicurahkan gadis kelas dua SMA itu, hanya karena
satu alasan : pengkhianatan.
Malam
ini Biru kembali mengulang malam panjang yang sama namun berbeda. Malam yang
sama-sama membuatnya tak mampu tidur sepicing pun, namun berbeda ceritanya.
Bila malam yang dulu ia tak tidur karena terlalu senang, malam ini ia tak tidur
lantaran teramat sedihnya.
Samar-samar
di antara tangisan, Biru ingat bahwa di malam yang dulu hatinya benar-benar
berbunga sebab seseorang mengungkapkan kata cinta padanya. Tetapi malam ini,
seseorang itu malah membuat hatinya penuh luka. Berdarah-darah. Seseorang itu,
Hijau, teman sekelas yang telah setahun ini berbagi perasaan bernama cinta
dengannya.
Biru
meraih laptopnya, membuka folder-folder foto lama, kenangan bersama Hijau dalam
banyak kesempatan. Satu persatu dipandangnya foto-foto itu. Kesedihan makin
menggelayutinya. Di sela-sela airmata yang terus saja jatuh, ia tak punya
tempat berteduh.
Biru
masih saja bertahan mengilasbaliki kenangan, sampai matanya tertuju pada sebuah
foto. Fotonya bersama Hijau, namun ada orang lain di sana. Seorang gadis berengsek
yang merusak semua kebahagiaan, pikirnya. Detik itu ingin rasanya Biru meloncat
di hadapan gadis itu, mencakar mukanya habis-habisan. Namun apalah daya, itu
hanyalah sebuah foto. Dan Biru pun masih cukup sadar untuk tak membanting
laptopnya karena kesal melihat wajah gadis itu. Namun segera matanya tertuju
pada ponselnya. Dibukanya akun media sosialnya, ia ingin membuat sebuah status
dan harapannya ia ingin gadis –berengsek- itu membacanya.
Barangkali aku tak luput dari kesalahan,
tapi aku tidak akan pernah merendahkan diri sendiri dengan merusak hubungan
orang lain!
Kurang
ajar! Nila serasa ingin membanting ponselnya ketika membaca kalimat tersebut.
Itu status yang dibuat oleh seseorang, seorang teman sekelas, gadis kurang ajar
yang bisanya hanya menyalahkan orang lain. Kapan gadis itu bisa berhenti
memandang sesuatu hanya dari sisinya saja? Nila bertanya-tanya sendiri di
antara kecamuk kemarahan yang tengah menerkam hatinya.
Merendahkan
diri sendiri katanya? Hah! Berani benar dia berkata begitu! Nila meremas-remas
seprainya lantaran teramat kesal. Padahal Hijaulah yang datang padanya pertama
kali. Bahkan ia pun sudah berusaha menjauh, mengingatkan Hijau bahwa ia punya
seseorang kekasih yang mesti dihargai. Tak bisakah gadis kurang ajar itu
melihat usahanya? Melihat bahwa ia telah berusaha mati-matian untuk menjaga
perasaan si gadis? Astaga! Bila hubungan Hijau dan gadis itu rusak, maka itu
bukan salahnya! Sebab semua orang tahu persis bahwa hubungan mereka sudah rusak
sejak lama. Hubungan itu sudah benar-benar rusak sejak gadis itu menunjukkan
sifat aslinya: egois tak terkira.
Gadis itu
benar-benar pencemburu. Padahal sangat wajar bila Nila dekat dengan Hijau,
karena mereka teman sekelas. Namun gadis itu seakan buta mata hatinya.
Kecemburuan membuatnya dengan gampang menuduh dan berkata kasar. Nila
menggeleng kuat-kuat. Itu bukan salahku! Tegasnya dalam hati. Nila menarik
napas berulang-ulang mengatur kemarahan yang menyesakkan dadanya.
Nila
meraih ponsel yang tadi dilemparnya dengan kasar di atas kasur. Ia memilih menu
pesan, dengan cepat menulis sms untuk seseorang: Hijau.
Kamu lihat status media sosial pacarmu itu?
Dia benar-benar kurang ajar dengan kata-kata seperti itu. Sudahlah. Aku bukan
hendak mengeluhkan itu, namun aku mau meminta. Tolong tenangkan pacarmu itu dan
jelaskan bahwa kita dekat hanya sebagai teman biasa. Dan juga setelah ini,
tolong jauhi aku!
Terkirim.Tak
lama ponselnya berdering, balasan pesan dari Hijau. Nila sedikit kaget,
ternyata di malam selarut ini bukan hanya dia dan gadis itu yang tak bisa
tidur, tapi Hijau juga. Nila tersenyum sinis, gadis itu benar-benar membuat
masalah ini jadi rumit. Segera dibukanya pesan itu. Nila tertegun, tiba-tiba
dadanya menjadi sesak.
Aku bisa saja menjelaskan padanya, Nila.
Tapi percuma, sebab hubungan kami telah selesai. Dan tolong, jangan minta aku
menjauhimu, Nila, karena aku menyayangimu. Aku sungguh jatuh cinta padamu,
sudah sejak lama, bahkan sejak aku masih bersama dia.
Waktu menyembuhkan luka. Hari ini
Biru telah bisa dengan hati yang lapang menapaki ruang kelasnya. Ruang kelas
yang di sana ia selalu melihat kedekatan Hijau dan gadis itu. Apakah ia
cemburu? Awalnya sangat dan hari ini pun masih saja begitu. Namun, Biru
beruntung memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangatinya.
Biru berusaha
menerima dengan lapang. Mati-matian ia berusaha membunuh api kemarahan yang
sempat menguasainya, sebab seorang teman menasehatinya bahwa api itu akan
membakarnya bila tak dipadamkan. Awalnya sulit. Sangat sulit. Apalagi dengan
kondisi setiap hari ia harus masuk ke kelas yang sama, melihat pemandangan yang
sama: interaksi Hijau dan gadis itu yang kian hari kian dekat saja. Namun,
Tuhan sungguh Maha Penyayang pada orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha.
Biru berusaha keras menerima, maka Tuhan berikan kelapangan hati itu. Tepat di
hari ini memanglah masih tersisa sedikit rasa sakit di hatinya, namun
penerimaan itu membuatnya lebih kuat. Dan tentang hatinya yang masih agak berat
untuk memaafkan, Biru selalu berdoa agar Tuhan membantu hatinya untuk bisa
memberi maaf. Maka dengan semua hal itu, makin hari hatinya makin lapang dan
perlahan ia kembali bisa tersenyum dan berbahagia. Bahkan lebih bahagia dari
sebelumnya.
Hari ini Biru
bersama teman-temannya melangkah menuju kantin. Ketika melangkah keluar pintu,
sempat sekilas matanya menangkap sosok gadis itu berjalan mendekati Biru.
Dadanya sedikit sesak, namun segera ia bisa menguasai hatinya. Biru tetap
tersenyum dan bergurau bersama teman-teman baiknya.
“Hei, lihat!
Status Merah belakangan so sweet
sekali. Sepertinya ia benar-benar sedang kasmaran,” seorang temannya
menyodorkan ponsel yang sedang membuka media sosial. Biru dan temannya yang
lain melihat antusias.
Tepat di waktu ini, dalam cinta aku telah
jatuh
untuk kemudian terbelenggu, tak bisa lepas
lagi
aku pun tak menginginkan lepas
Benar,
kalimat status itu begitu manis. Biru tersenyum simpul melihatnya, mengingat
bahwa dulu ia pun sering membuat status semacam itu. Namun itu dulu. Biru
menarik napas dalam, mencoba melegakan hati yang tiba-tiba agak sesak.
“Romantis
sekali ya dia, beruntung sekali gadis yang jadi pacarnya,” teman-teman Biru
meneruskan obrolan yang sama.
“Eh, kalian
tahu, kan, dia memang baru jadian dengan anak IPS2. Tahu tidak? Pacarnya
cantik. Aduh aku lupa siapa namanya, tapi kalian pasti kenal deh!”
“Oh ya?”
Pembicaraan
itu masih saja berlanjut sepanjang jalan ke kantin. Biru hanya mendengarkan
dengan baik. Ia tahu lelaki itu. Merah, siswa kelas IPS 1 yang tampan, pintar
dan berprestasi. Ia kenal cukup baik dengan Merah karena pernah meraka satu tim
dalam sebuah kegiatan sekolah.
Kantin sudah
ramai ketika mereka sampai. Biru dan teman-temannya mengambil tempat agak di
sudut. Mereka memesan bakso yang kata siswa-siswa sekolah itu adalah bakso
terlezat sedunia. Baru saja akan menyantap bakso, dua orang anak lelaki datang
dan meminta izin duduk di dekat mereka karena kursi lain sudah penuh. Biru tak
terlalu memperhatikan, tetap fokus pada baksonya.
“Hei, itu kan
Merah,” teman yang duduk di sebelahnya berbisik pada Biru. Biru memalingkan
wajah ke arah dua anak lelaki itu. Mereka tersenyum membalas tatapan Biru.
“Apa kabar,
Merah?” Biru menyapa salah satunya.
“Baik sekali,
Biru. Bagaimana denganmu?” Merah balas bertanya dengan senyum lebar.
“Hm, aku
baik.” Biru menjawab. “Ya, aku tahu kamu sedang bahagia sekali, Merah. Status-statusmu
menggambarkan hal itu dengan baik, kok,” Biru tertawa kecil. Merah segera agak
memerah mukanya, ia juga ikut tertawa kecil.
“Ya, kira-kira
begitulah,” ujarnya.
“Siapa
namanya, Merah? Bolehkah temanmu ini tahu?” Biru semakin tertarik menjahili
Merah, membuat mukanya semakin merah.
“Ah, itu...”
Merah agak gugup sejenak, namun akhirnya ia menyebutkan sebuah nama. Biru
tersenyum simpul.
“Kudoakan
hubungan kalian awet,” katanya.
“Terima
kasih, Biru,” ucap Merah. Mereka semua pun kembali fokus pada makanan
masing-masing.
Nila mengusap
matanya yang mulai berair. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Bahwa kau
bisa tiba-tiba ingin menangis lantaran pesan yang tak dibalas-balas. Nila
membuka pesan terkirim, sudah banyak sekali pesan yang dikirimkan. Namun tak
ada satupun yang di balas. Pesan masuknya benar-benar kosong, sedangkan pesan
terkirimnya sudah penuh dengan satu nama: Hijau.
Nila terduduk
melamunkan apa yang telah terjadi. Tak pernah sedikit pun terniat di hatinya
untuk menerima Hijau. Apalagi setelah banyak kejadian menjengkelkan yang ia
rasakan karena sikap mantan pacar Hijau. Sampai saat ini pun ia masih belum
saling bersapa dengan gadis itu, meskipun gadis itu belakangan sudah terlihat
biasa saja, sering tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Entahlah, apakah
gadis itu sengaja berbuat demikian untuk menutupi kesedihannya, Nila pun tak
tahu.
Namun yang
jelas terjadi adalah bahwa ia, Nila, telah jatuh cinta pada Hijau. Jatuh cinta
yang tak pernah diduganya, sebab jelas ketika itu ia berniat menjauhi Hijau
untuk meredam kesalahpahaman. Nila mencoba mencari alasan mengapa ia jatuh
cinta. Tapi tidak bisa ditemukannya. Ia hanya jatuh cinta, sesederhana itu
saja. Ia jatuh dan parahnya sekarang terasa sakitnya.
Merah
tersenyum kecil mengingat taman-temannya berkomentar mengenai status-status
media sosialnya yang belakangan romantis sekali. Jatuh cinta memang
menumbuhsuburkan inspirasi.
Merah meraih
ponselnya. Sebuah wajah manis terpampang di layar utama, Jingga. Senyumnya menjadi
lebih mengembang. Hampir dua tahun di SMA, ia memendam perasaan suka pada gadis
itu. Dan sekarang, impiannya menjadi kenyataan, Jingga membalas perasaannya.
Mungkin terdengar sedikit berlebihan, namun seluruh dunia pun tahu, bahwa
Jingga adalah salah satu impiannya. Maka wajar saja, bila ia menjadi bahagia
tak terperi, menemui mimpi yang tak lagi hanya sekadar mimpi.
Merah
merebahkan diri di atas tempat tidur. Cinta, benar-benar membuat seseorang
berkelakuan di luar normalnya. Baru tadi siang ia bertemu Jingga di sekolah,
namun sekarang ia sudah rindu lagi. Merah memandang langit-langit kamarnya yang
putih bersih. Entah bagaimana ada wajah Jingga di sana. Merah menghembuskan
napas keras. Astaga! Ia sudah mulai gila. Ditutupnya matanya, mencoba tidur
dalam gejolak rindu yang mengganggu. Akan tetapi tak bisa, ia tak mampu untuk
lelap.
Tiba-tiba
Merah bangkit dari tidur, meraih ponselnya. Dengan lincah jemarinya mengetik
sesuatu. Beberapa detik kemudian ia tersenyum puas. Kalimat indah sudah
tersusun rapi di layar ponselnya. Jemarinya kembali bergerak, mencari sebuah
nama.. Sent. Pesan itu segera melaju
melintasi lapis-lapis langit, singgah di satelit yang melayang-layang dalam
kehampaan, lalu kembali lagi ke bumi dan hinggap manis di ponsel seseorang.
Jingga.
Hijau menarik
napas panjang. Puluhan pesan berbaris di kotak masuk ponselnya. Satu nama
berderet resah di sana, Nila. Hijau membuka satu pesan.
Apa yang sedang kaulakukan? Kenapa tak membalas
pesanku?
Hijau lalu
meletakkan ponsel itu di sisinya, urung membuka pesan-pesan yang lain. Sebab ia
yakin, isinya akan serupa saja.
Hijau
menghembuskan lagi napas berat. Cinta itu apa? Apalah arti cinta bila dengan
mudah bisa memudar? Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja. Jahatkan ia? Hijau
sendiri bahkan tidak tahu. Ia tidak tahu mengapa ia menyukai Nila, dan ia lebih
tidak tahu mengapa perasaan itu pun memudar dengan cepat.
Jemarinya
makin mengetuk cepat. Sungguh, ia tak ingin menyakiti Nila. Tidak ingin! Sama
seperti dulu pun ia tak ingin menyakiti Biru. Namun, selalu dan selalu saja ia
tak bisa menguasai perasaannya sendiri. Ia tak mampu mengendalikan keinginan
untuk pergi ketika cinta itu perlahan-lahan memudar. Tidak ada yang salah
dengan Nila, pun tidak ada yang salah dengan Biru. Hanya dirinya yang ingin
pergi. Hatinyalah yang ingin mencari perhentian lain. Ia jahat? Ya, barangkali
ia memang jahat. Harusnya sebagai laki-laki ia mampu menjadi rasional dan
mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal buruk itu. Namun, entah
mengapa ia selalu kalah. Ia kalah oleh dirinya sendiri.
Hijau
mengepalkan tangannya. Sungguh merasa frustrasi akan dirinya sendiri.
Diambilnya ponselnya, sebuah pesan baru masuk.
Kamu
baik-baik saja? Aku rindu padamu...
Hijau
tercenung sejenak. Namun, segera jemarinya bergerak. Menyusun barisan huruf
agar menemui maknanya. Sent. Ia
menarik napas lagi, dalam. Barangkali ia masih belum bisa mengalahkan dirinya,
tapi sudahlah, Hijau memilih tidak memikirkannya lagi.
Jingga bersegera
meraihponselnya ketika terdengar dering tanda pesan. Merah.
Cinta mengukir namamu di kedalaman jiwaku,
menjadi bagian darinya
Bagaimana aku bisa sejenak melupakanmu,
bila raga ini saja bergerak dengannya?
Jingga
menghela napas.Kalimat yang indah. Sungguh. Namun, mengapa untaian kata seindah
itu serasa tak benar-benar mampu membuat bibirnya mengulas senyum?
Apa yang
salah dengan perasaannya? Apa yang salah dengan kata-kata cinta yang indah itu?
Kata-kata cinta yang diharapkan banyak gadis untuk dikirimkan pada mereka. Ia,
Jingga, telah sangat beruntung mendapatkan laki-laki yang baik dan penuh kasih
sayang seperti Merah. Namun apa yang salah?
Tidak sedikit
pun sikap Merah pernah membuatnya sedih. Malahan perhatian yang berlimpah
selalu diberikan laki-laki itu. Bahwa Merah beruntung mendapatkannya, itulah
yang selalu dikatakan Merah padanya. Bukankah ia sangat beruntung? Dicintai
oleh laki-laki yang menjadi idola banyak gadis. Lebih dari itu, ia dicintai
dengan sepenuh hati. Merah selalu memperlakukannya dengan baik, seperti ia
adalah hal paling berharga di dunia. Kasih sayang laki-laki itu begitu tulus. Gadis
mana yang tak akan luluh hatinya bila diperlakukan seperti itu?
Jingga
menjambak pelan rambutnya. Apa yang terjadi padanya? Bukankah di awal ia begitu
merasa beruntung? Bukankah diawal hatinya telah luluh? Ketulusan kasih sayang
Merah membuatnya dengan mudah menerima Merah. Berbulan-bulan hubungan mereka
berjalan baik-baik saja. Perhatian Merah bahkan menjadi semakin bertambah.
Lalu, mengapa kini ia merasa datar? Tanpa getar. Kata-kata cinta tadi pun
bahkan hanya diingatnya samar. Apakah cinta memang semudah itu pudar?
Jingga membenamkan
mukanya di bantal. Namun kemudian ia bangkit, meraih ponselnya. Mengetik
sesuatu dengan cepat.
Kamu baik-baik saja? Aku rindu padamu. Terkirim.
Tak lama
dering tanda pesannya kembali berbunyi.
Aku pun begitu rindu padamu. Sangat, sangat
rindu.
Jingga
menekuri tulisan di layar ponselnya. Senyumnya mengembang tanpa ia sadari. Satu
nama tertulis jelas. Hijau.
Biru
mempercepat langkah kakinya. Ia sudah lapar sekali dan hendak menyusul
teman-temannya ke kantin. Ia baru saja dari kantor guru, mempersiapkan lomba
mata pelajaran yang bulan depan akan dihadapinya.
Biru
melangkah dengan ringan dan cepat, sampai tiba-tiba selintas matanya menangkap
sesuatu. Di sisi samping kelasnya yang tak terlalu kentara, dua orang tampak
sedang berbincang. Hijau dan Nila.
Langkah Biru
terhenti sejenak, tapi kemudian segera dilanjutkannya. Biarkanlah! Biru
menguatkan hatinya sendiri yang masih saja terasa sedikit sakit ketika melihat
dua orang itu bersama. Langkah Biru menjadi berat. Setelah agak jauh, ia berhenti.
Ditariknya napas dalam. Hati itu masih saja terasa agak sakit. Namun, jika
diingat lagi, sebenarnya rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Biru terdiam
lama, ingatan-ingatan berseliweran di kepalannya. Hanya saja kali ini, Biru
membiarkannya saja. Membiarkan dirinya mengingat kenangan. Ia biarkan hatinya
mengingat rasa bahagia yang dulu dirasakan, pula mengingat rasa sakit yang kini
dirasakannya. Tak lagi ia berusaha menolak semua perasaan dan ingatan itu. Ia
berusaha untuk menerima. Dan rasa sakit itu semakin jauh berkurang. Biru
melanjutkan langkahnya ke kantin.
Airmata itu
akan jatuh! Jangan! Jangan sampai ia menangis sekarang. Semampunya
dipertahankan raut wajah agar tetap tenang, setenang saat tadi ia bertanya.
Meski percuma, mata itu sudah nampak berkaca.
“Jadi, benar
kamu menyukai Jingga?” itu pertanyaan yang dilontarkannya sesaat tadi.
Sosok di
depannya diam sesaat, untuk kemudian menjawab.
“Iya, maafkan
aku,”
Nila
memainkan jemarinya, berharap itu bisa menetralisasi rasa sesak yang tiba-tiba
menyerangnya. Ia memandang wajah Hijau yang tengah berpaling ke arah lain.
Entah kenapa raut wajah yang tenang itu makin membuat dadanya sesak. Mengapa
laki-laki di hadapannya ini bisa menjawab dengan nada sedatar itu? Tak adakah
rasa bersalah sedikit pun?
“Baiklah.
Kalau memang begitu. Antara kamu dan aku, kita akhiri saja.”
Nila segera
berlari menjauh, menuju tempat yang lengang. Airmata itu sudah jatuh. Tidak
terdengar langkah kaki, Hijau tidak mengejarnya. Nila menaruh telapak tangan di
dada. Sakit.
Apa-apaan
ini? Merah mebaca ulang pesan dari Jingga yang tertera di ponselnya.
Merah, sebelumnya aku ingin meminta maaf.
Namun, hubungan kita, aku tidak bisa lagi melanjutkannya. Sekali lagi, maafkan
aku.
Merah
mengetik cepat di antara keterkejutannya.
Ada apa, Jingga? Bukankah selama kita tak
punya masalah yang berarti? Jika memang ada sesuatu yang mengganjal hatimu,
mari kita bicarakan secara langsung. Jangan lewat sms seperti ini.
Satu menit.
Dua menit. Lima menit, tak ada balasan.
Jingga?
Masih tak ada
balasan.
Jingga? Tolong balas pesanku, Jingga.
Kumohon jangan membuatku bingung seperti ini.
Akhirnya satu
pesan masuk.
Tak ada yang perlu dibicarakan. Tak ada yang
salah denganmu. Hanya saja aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini.
Maafkan aku.
Merah segera
mengetik cepat sebuah pesan balasan.
Jingga. Aku ingin kita bicara langsung.
Kumohon.
Merah menatap
layar ponselnya lama. Percuma. Tak ada lagi balasan.
Berminggu-minggu
berlalu. Hijau duduk sendirian di beranda rumahnya. Keheningan membawanya
menekuri semua yang telah dilaluinya. Hijau menerawang jauh. Sungguh ia telah
jahat pada Biru maupun Nila. Jari-jarinya menyisir rambutnya kasar. Ia
menghembuskan napas keras. Oh Tuhan, apa yang telah dilakukannya?
Hari itu di
depan Nila, dengan raut tenang ia mengatakan bahwa ia menyukai Jingga. Bukannya
ia tak merasa bersalah. Namun egonya sebagai seorang laki-laki memaksanya untuk
bersikap seperti itu. Bukannya ia tidak merasa bersalah telah membuat Nila dan
Biru menangis. Karena bila ia telusuri nuraninya, sungguh ia teramat menyesal
akan hal itu.
Sekarang ia
menjalani hari, seolah semua baik-baik saja. Walaupun Biru semakin hari tampak
semakin ceria, dan perlahan Nila pun kembali terlihat biasa, namun hatinya
semakin merasa bersalah. Setiap hari ia merasakan keresahan yang tak pernah ia
rasakan sebelumnya. Seolah-olah ada yang salah di hatinya. Seperti hatinya
menuntut untuk meluruskan kekeliruan yang dilakukannya. Tapi apa? Bukankah ia
sudah meminta maaf pada Biru dan Nila? Mereka menerima maafnya dengan wajah
tersenyum dan sekarang mereka berinteraksi seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Lalu mengapa hatinya masih resah? Hijau sendiri tak tahu, apalagi yang salah.
Hijau meraih
ponselnya. Tak sengaja jarinya memencet satu tombol, kotak masuk terbuka. Satu
nama berderet rapi di sana. Hijau tercenung. Mungkinkah ini yang salah? Hijau
mengacak-acak rambutnya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya keras.
Dipejamkannya matanya lama. Mencoba mencari jawaban yang dilontarkan hati
nuraninya. Jawaban yang selama ini tak ia dengarkan dengan baik.
Hijau membuka
matanya. Ia menemukan jawabannya. Segera diketiknya sebuah pesan panjang. Satu
nama terpilih. Jingga. Sent.
Jingga, aku tak tahu bagaimana memulai ini.
Tapi kau sendiri tahu, bahwa hubungan kita tak berawal dengan sesuatu yang
baik. Berminggu-minggu aku mencoba mencari jawaban dari hati yang selalu resah.
Mengapa hatiku selalu merasa tak nyaman, padahal semua berjalan baik-baik saja?
Aku sudah meminta maaf pada Biru maupun Nila, tapi tetap saja kegelisahan itu tidak
hilang.
Hari ini, aku tahu jawabannya. Mengapa
hatiku tetap merasa bersalah dan gelisah. Karena hubungan ini masih tetap
menyakiti orang-orang di sekitar kita. Walaupun mereka menerima maaf dengan
senyuman, namun hatinya tetap terluka. Dan selama mereka masih terluka, selama
itu pula hatiku merasa bersalah. Karena itu, Jingga, kumohon kamu mengerti, aku
ingin mengakhiri hubungan ini. Bukan karena aku tak lagi menyukaimu, tapi
karena aku tak ingin membuat orang-orang di sekitarku tersakiti. Semoga kamu
paham alasanku. Dan semoga hal ini tidak menambah daftar orang-orang yang
tersakiti karena aku.
Sementara di
satu tempat lain. Jingga tengah duduk di tepi tempat tidurnya. Kesendirian
membawanya menekuri apa yang telah terjadi. Ia teringat satu sosok yang tetap
tersenyum tulus kepadanya meskipun ia telah menyakitinya. Berminggu-minggu
berlalu, ia berpikir Merah akan membencinya dan tak mau lagi menyapanya. Namun,
yang terjadi justru sebaliknya. Keputusan sepihak yang dibuat Jingga, tak
membuat Merah berubah sikap padanya. Merah memang berhenti menelepon dan
mengiriminya pesan. Namun Merah masih laki-laki yang sama yang dengan senyum
lebar menyapanya ketika berpapasan, laki-laki yang masih dengan senang hati
membantunya ketika ia kesulitan.
Jingga
menarik napas dalam, lalu melepaskannya. Di saat situasi sudah kembali normal,
hubungan pertemanan dengan Merah tetap baik-baik saja, mengapa hatinya terasa
tidak damai? Ia merasakan kegelisahan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.
Ada apa ini? Apalagi yang salah? Jingga menutup matanya lama, mencoba mencari
jawaban dari sumber kegelisahan itu sendiri: hatinya. Satu tetes airmata jatuh.
Jingga membuka mata, ia sudah tahu jawabannya.
Segera
diraihnya ponselnya. Diketiknya sebuah pesan panjang. Satu nama terpilih.
Hijau. Terkirim.
Aku tidak tahu bagaimana harus memulai ini,
Hijau. Tapi, kamu tahu persis bagaimana kita memulai hubungan ini. Waktu
berlalu, hubungan kita berjalan lancar. Hubungan dengan seseorang itu juga
baik-baik saja. Aku telah meminta maaf dan kami berteman seperti biasa. Namun,
entah mengapa hatiku merasa tidak damai. Seolah ada hal yang keliru dan itu
membuatku gelisah sepanjang waktu.
Lama sekali, aku mencoba mencari tahu, apa
yang salah. Dan hari ini aku menemukan jawabannya. Karena aku telah menyakiti
seseorang. Meskipun ia telah dengan tulus memaafkanku, namun aku sadar bahwa
hubungan kita ini masih tetap membuat hatinya tersakiti. Dan selama ia tetap
tersakiti, selama itu pula rasa bersalah membuat hatiku tidak damai. Oleh
karena itu, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku berharap kamu mengerti
keputusanku. Semoga kamu tidak tersakiti dengan keputusanku ini. Aku tidak
ingin menambah panjang daftar orang yang tersakiti karena aku. Hanya saja, kurasa
tak baik juga bila hanya lewat sms kusampaikan pesan ini. Besok aku ingin kita
bicara secara langsung.
Kedua pesan
itu melaju dalam lintasan yang tidak kasat mata. Menuju satelit yang kemudian
mengirimkannya ke nomor yang dituju. Dan kedua pesan itu sampai di tempat
tujuannya dalam waktu yang bersamaan.
Tahun
berganti tahun dan segala peristiwa segera menjadi kenangan. Hari ini Nila
duduk di sebuah tempat makan bersama teman baiknya, Biru.
“Bila diingat
lagi apa yang terjadi ketika SMA, aku benar-benar tidak menyangka kita bisa
duduk berdua mengobrol seperti ini. Makan bersama nyaris setiap hari,” Nila
mengaduk-aduk jus jeruknya. Biru tertawa kecil.
“Kamu benar,
Nila,” Biru menghentikan suapan baksonya.
“Tapi, sampai
detik ini, aku salut padamu, Biru. Bagaimana bisa kamu bisa bangkit begitu
cepat, menerima dengan begitu cepat, padahal aku yakin saat itu kamu begitu
terluka. Kamu bisa dengan segera menjadi ceria dan tersenyum seolah tak pernah
terjadi apa-apa, sedangkan hatiku, bahkan sampai detik ini...” Nila menaruh
tangan di dadanya. Ya, sampai detik ini, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu,
hatinya tetap saja merasa sedikit sakit ketika mengingat Hijau.
Biru
tersenyum.”Sejujurnya, waktu itu, aku sangat, sangat membencimu, Nila,” Nila
mendongakkan kepala demi mendengar ucapan Biru. “Iya, setiap kali melihatmu
bersama Hijau, hatiku tanpa sadar berharap agar sesuatu yang buruk menimpa
kalian, agar aku tak perlu lagi melihat kalian selamanya,”
Nila
terbelalak. “Aku tak pernah tahu hal itu sebelumnya.”
“Yah,
begitulah saking aku dulu membenci kalian berdua. Hatiku rasanya sakit sekali.
Aku merasa tak mampu untuk membuang rasa benci itu sedikitpun. Maka yang
kulakukan adalah berdoa kepada Tuhan agar ia bersedia membantu membuang
kebencian itu.” Biru menyesap air putihnya. “Tuhan itu pemilik segala perasaan,
jadi aku yakin hanya Dia pula yang dapat menghilangkan perasaan-perasaan itu.
Kekuatanku terlalu lemah, aku tak mampu lagi menanggulangi perasaan itu. Maka
yang kulakukan adalah meminta bantuan-Nya. Dan kamu bisa lihat hasilnya, Nila.
Perasaan itu benar-benar menguap ketika kita berdua berhadapan, saling meminta
maaf dan berpelukan. Semuanya kebencian itu benar-benar lenyap,” Biru tersenyum
mengakhiri kalimatnya.
Nila menatap
Biru dengan mata berkaca. Mungkin itulah yang seharusnya dilakukannya sejak dulu,
meminta bantuan Tuhan untuk menanggulangi perasaan yang tidak lagi mampu
ditahannya.
“Selain itu,
aku kemudian sadar, bahwa semua yang terjadi adalah cara Tuhan membawaku
kembali pada-Nya. Aku telah menghabiskan waktuku sia-sia menanam dan memupuk
perasaan cinta yang semu dan hanya membawa kesakitan. Padahal ada perasaan
cinta yang paling damai, yang sedikitpun tidak akan membuatmu tersakiti yaitu
rasa cinta pada-Nya. Kenapa? Karena rasa cinta-Nya pada kita teramat besar dan
tak akan pernah berkurang sedikit pun,”
Nila mengusap
airmatanya yang jatuh. Benar.Ada cinta yang lebih berharga untuk dijaga. Cinta
yang tak akan berbuah kebencian. Seharusnya cinta itulah yang dipupuk sejak
dahulu. Airmatanya makin menderas. Biru memegang tangannya erat.
“Serahkan rasa
sakit itu pada-Nya, Nila. Biar Ia yang membantu meghilangkannya. Selain itu,
tak pernah ada kata terlambat untuk mencintai-Nya,”
Air mata Nila
makin menderas. Namun kali ini, disertai senyum kelegaan. Rasa sakit itu
tiba-tiba berkurang banyak.
Sementara
itu, di sisi bumi yang berbeda-beda, tiga warna yang lain juga menemukan
jawabannya. Jawaban atas pertanyaan yang mungkin tak pernah terlontar.
Hari itu
mereka semua paham bahwa menolak perasaan yang hadir hanya kan membuat hati
terasa sakit. Namun bukan berarti perasaan itu harus dituruti. Ada satu Dzat,
Pemilik Segala Perasaan yang bisa menjadi tempat perasaan itu dititipkan. Ada
satu Dzat yang akan mampu mengembalikan segala perasaan itu ke jalur yang
seharusnya, jalur yang tidak akan berakhir pada rasa sakit dan luka.
Hari itu
mereka semua paham, bahwa memupuk dan menumbuhkan rasa cinta berlebihan untuk
seorang manusia tidak membawa pada kebahagiaan. Manusia tidak kekal. Maka
perasaan cinta pada seorang manusia tidak pula akan abadi. Perasaan itu akan dengan
mudahnya hilang, lenyap dan mati. Dan saat itu terjadi, yang tertinggal hanya
rasa lelah dan kesal karena telah bersusah payah memupuk dan menumbuhkannya.
Rasa lelah dan kesal yang pada akhirnya berubah menjadi benci dan rasa sakit.
Hari itu
mereka sadar bahwa satu-satunya cinta yang tidak akan pernah membawa rasa sakit
adalah cinta pada Sang Pemilik Cinta. Dan cinta yang didasari pada ingatan
pada-Nya, itulah cinta yang akan membawa kebahagiaan. Sebab sungguh, tak ada
cinta, tanpa mengingat-Nya.

1 komentar:
at: 8 Maret 2015 pukul 08.23 mengatakan...
kisah ini rupanya
Posting Komentar